Buat Anda yang suka ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja yang sedang terjadi di pentas media dan semua kenangan masa lalu yang terkait dengan itu, inilah wadah untuk saling menyapa.
a
-
Recent Posts
-
Recent Comments
Anonymous on Tentang Saya mbah Wono on Tentang Saya Ipen on Bara Politik Lokal di Lom… Okin on Kalo pr dan media koempoe… Jhellie on Tantangan Manajemen Pers … Archives
-
Blog Stats
- 43,050 hits
-
Tulisan Teratas
-
Flickr Photos



More Photos Pages
Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.
PERSAINGAN MEDIA CETAK NASIONAL DI JATENG DAN DIY
Sekitar akhir bulan Agustus tahun 2006 yang lalu saya ditelepon agen koran dari Wonogiri. Dengan sangat ketakutan dia ngomong kalau besok hari dia tidak usah dikirim SINDO lagi. Kemudian saya bertanya, “kenapa?” Alasannya, dia tidak boleh lagi jualan SINDO oleh orang-orang dari kelompok bisnis media Jakarta . Memang agen tersebut adalah agen yang cukup lumayan besar di daerah Wonogiri. Bisa disebut penguasa tunggal di daerah Wonogiri. Dan ternyata, setelah keesokan hari saya datang ke Wonogiri, bukan hanya SINDO yang tidak boleh dia jual, tabloid Nyata dan turunannya–pun juga tidak boleh. Ujung-ujungnya pelarangan menjual SINDO dan Nyata beserta turunannya juga dilakukan oleh agen tersebut kepada loper dan pengasongnya. Fenomena ini bukan hanya di Wonogiri, tapi juga terjadi seluruh di Jawa Tengah dan DIY.
Memang penerbit harus menciptakan kondisi yang aman untuk pengembangan bisnisnya. Tapi tidak boleh ngawur dengan melarang agen untuk menjual media ini dan itu. Hidup dari agen ya dari jualan media cetak apapun, asal tidak jualan media cetak yang dilarang pemerintah. Kalau mereka dilarang jualan media ini dan itu, otomatis rejeki mereka akan berkurang. Apalagi pengasong, dengan berkurangnya jualan mereka, pendapatan lima ribu atau sepuluh ribu dari berjualan media yang dilarang jadi tidak ada lagi. Dalam kesempatan hadir di pertemuan pengasong di Wonogiri ada seorang pengasong yang nyeletuk, “ Penerbit jangan koyo Gusti Allah yang bisa menentukan rejeki orang!” “ Setuju sekali Kang !” jawab saya.
Orang memilih hidup dari menjadi agen koran atau majalah karena mereka pengin mandiri dan tidak diperintah orang lain. Minimal mereka pengin jadi “Bos” untuk dirinya sendiri. Agen bukanlah bagian dari struktur organisasi perusahaan penerbit. Semestinya penerbitpun tidak bisa melarang untuk berjualan media ini dan itu. Hubungan penerbit dan agen adalah hubungan kemitraan. Itulah yang harus dihargai bersama – sama antara penerbit dan agen. Hubungan itu sangat mulia.
Salah satu penerbit tidak bisa mengklaim “ Ini lho agenku kau tidak boleh pakai!” Kalau ternyata agen yang digunakan adalah agen lama yang merupakan jalur distribusi pemasaran dari banyak penerbit. Sebagai penerbit yang hadir belakangan juga tidak bisa menolak permintaan dari agen tersebut. Selain yang pasti juga akan membuat jalur distribusi pemasaran sendiri.
Harus diakui, banyak penerbit lebih suka menggunakan jalur distribusi pemasaran medianya dengan menggunakan jalur distribusi pemasaran tradisional yang sudah ada. Mereka enggan untuk menciptakan jalur distribusi pemasaran sendiri. Mungkin memakan waktu lama untuk mengembangkan bisnis medianya. Tapi kebanyakan penerbit pada lupa, bukankah menciptakan jalur distribusi pemasaran sendiri dengan mendorong orang menjadi pelaku bisnis media akan membuka lapangan pekerjaan baru? Jadi tanggung jawab sosial media-pun terpenuhi.
Adanya jalur distribusi pemasaran baru akan semakin luas jaring jalur distribusi pemasarannya. Tidak melulu mengandalkan agen lama yang merupakan jalur tradisional. Yang kebanyakan dari mereka enggan untuk mengembangkan media cetak dagangannya.
Penerbit juga enggan melakukan penetrasi pasar ke daerah periferi. Kurang feasible mungkin. Bahkan kelompok bisnis media sekuat Kelompok Kompas Gramedia dan Jawa Pos Group –pun tidak tertarik. Apalagi SINDO yang baru seumur jagung. Akhirnya kue pasar media yang ada dan tidak seberapa terutama di kota menjadi rebutan. Gencet menggencet antar penerbit media-pun terjadi. Ada media tertentu oplahnya naik, penerbit media yang lainnya berusaha untuk menahannya. Berbagai cara akhirnya dihalalkan dan etika bisnis dilupakan. Salah satunya dengan melarang agen untuk berjualan media tertentu.
Korban utama adalah pelaku bisnis media, agen beserta pengasong dan lopernya. Bukan tidak mungkin untuk masa mendatang penerbit media lokal akan tergilas oleh kekuatan kelompok bisnis media kuat dari Jakarta. Pengangguran akan terlihat nyata di depan mata. Wow………ngeri.
Koran sudah mempunyai segmen sendiri. Kalau mereka sudah terbiasa membaca Kompas tapi tidak tersedia di penjual koran, mereka tidak mau disodori koran lainnya. Mereka tetap akan mencari Kompas di penjual koran lainnya. Banyak faktor seorang pembaca dalam memilih koran untuk dibaca. Antara lain, karena kontennya, iklannya bahkan karena harganya. Kenapa harus takut dengan pendatang-pendatang baru di blantika bisnis media. Dengan datangnya pebisnis media baru niscaya akan memperkaya ragam media yang hadir di masyarakat. Dan pada akhirnya masyarakatlah yang akan menilai.
Alangkah baiknya jika penerbit secara bersama-sama menumbuhkan minat baca masyarakat. Dari tahun ke tahun minat baca masyarakat bahkan pembaca koran tidak beranjak tumbuh berkembang.
Sangat menyenangkan jika iklim bisnis media yang kondusif untuk bisa berkembang bersama-sama. Toh …. banyak orang yang akhirnya bisa menikmati dengan berkembangnya bisnis media. Bukan hanya pelaku bisnis media tapi juga karyawan yang bekerja di industri media. Semoga industri media nasional semakin sehat dan mendekati realita cita-citanya. Semoga………………!
Ditulis oleh Wahyu Pranowohadi
Salam hangat. Sebuah usulan yang menarik dan patut diperhatikan oleh kita semua. Blog ini enak diklik dan perlu…..
mas, tolong kasih saran dong buat saya,
saya sedang merintis membuat tabloid lokal yang mempunyai segmentasio pelajar, saya beru mulai rintis ini pertengahan tahun ini, yang pertama saya tanyakan, bagaimana mencari iklan lokal dan nasional ya mas,? alamat email saya fozie_zie@yahoo.com
sebelumnya makasih loh dah mau baca ini