Siapa tak kenal nama koran satu ini??? Pos Kota adalah sebuah fenomena untuk ukuran koran metropolitan. Harus diakui, di Jakarta, ia hingga kini masih menjadi salah satu koran terbesar. Menyandang label dan predikat sebagai yellow paper, tak membuat koran yang telah berusia lebih dari 3 dekade ini merasa kecil hati.
Rabu, 21 Maret, di siang hari selepas makan siang, saya menyambangi kantor koran yang terletak di kawasan bisnis Jalan Gajahmada, Jakarta Pusat, ini. Adalah Hj Nurmali Muslim, Wakil Pemimpin Perusahaan Pos Kota yang hendak saya jumpai.
Rupanya, tak banyak berubah dari sosok Nurmali maupun kantor Pos Kota. Ruangan Nurmali di lantai 2 gedung Pos Kota, hanya seukuran lk 2 x 3 meter persegi. Di depan meja kerjanya, hanya ada satu kursi sofa panjang berwarna hijau dan dua buah kursi lipat. Di lantai 1 gedung tersebut, berjejer beberapa komputer yang berfungsi mencatat order iklan yang datang, dengan staf tak kurang dari 8 orang.
“Ya, beginilah ruangan saya. Tidak ada meja kursi tamu,” ujar Nurmali mengawali bincang-bincang santai menyambut saya. Nurmali adalah segelintir dari “legiun lama” Pos Kota yang masih aktif ikut menjalankan roda perusahaan yang “dibesarkan dan membesarkan” Harmoko, ini. Ruangannya tepat berada di sisi kiri luar dari ruangan sang big boss Pos Kota, H. Tahar.
H. Tahar adalah Pemimpin Umum dan sekaligus Pemimpin Perusahaan Pos Kota. Sementara Wakil Pemimpin Umum adalah H Sofjan Lubis.
“Situasi sekarang memang semakin sulit,” kembali Nurmali memulai bicara. Kesulitan yang ia maksud, tak lain menyangkut persaingan antar penerbit koran di Jakarta dewasa ini. Meski, menurutnya oplah korannya masih bisa bertengger di kisaran 300 ribu eksemplar, kehadiran para pendatang baru, terutama di segmen yang senasib dengan Pos Kota, patut dan harus selalu diwaspadai pergerakan mereka.
Dunia persilatan koran memang terus berubah. Tapi perubahan paling menyolok dalam 10 tahun terakhir, mungkin terjadi dalam kurun 2 – 3 tahun belakangan. Format koran-koran di ibukota dan kemudian menular ke seantero negeri ini, mengalami perubahan yang cukup radikal. Baik dari sisi ukuran maupun konten dan tata letak.
Sekilas Pos Kota memang tak banyak melakukan perubahan itu. Namun, “Orang-orang di sini banyak yang muda-muda usianya,” ujar Nurmali hendak menggambarkan bahwa kehadiran orang-orang muda di Pos Kota dalam posisi-posisi penting, menandakan adanya upaya melakukan perubahan di dalam tubuh koran yang saya kerap sebut sebagai “Raja Iklan Baris” ini.
Ia lantas menyebut tokoh si Doyok yang selalu tampil dengan kemeja model zaman dulu bermotif lurik. Anak-anak muda zaman sekarang pasti akan menyebut tampilan si Doyok sebagai “jadul”. Lalu muncullah gagasan untuk menyegarkan tampilan si Doyok (sebenarnya upaya menyegarkan tampilan Pos Kota juga), dengan mencoba mendandani Doyok dengan kemeja jas. “Kalau malam Minggu hendak kondangan, ya kita dandani dia dengan kemeja jas,” ucap Nurmali memberi ilustrasi penyegaran tersebut.
Tokoh Doyok dan rubrik “Nah Ini Dia” adalah aset penting Pos Kota. Sedangkan kekayaan iklan barisnya, merupakan energi yang mendorong Pos Kota untuk terus bertumbuh dan tumbuh semakin membesar. Meskipun dewasa ini, diakui Nurmali, situasi pasar tengah mengalami stagnasi, terutama di tingkat sirkulasi. Tidak mudah mengembangkan sirkulasi koran saat ini. Apalagi sangat sulit mendapatkan orang-orang sirkulasi yang handal. “Orang sirkulasi kan sekolahnya di lapangan,” timpal Nurmali menggambarkan repotnya mencari tenaga handal dan profesional di bidang sirkulasi.
Belum lagi godaan yang kerap menerpa orang-orang sirkulasi, terutama mereka yang berada di lapangan.
Kembali ke laptop…eh…Pos Kota… Zaman memang sudah berubah. Pos Kota dan koran-koran lain memang tak bisa diam menyikapi perubahan. Melalui kecakapan untuk menerima dan kemudian menerjemahkan perubahan itu secara bijak, masa depan koran saya yakini akan terus bertahan lama. Pun dengan Pos Kota. Kalimat bijak yang sering saya dengar: “Kerja di koran itu 24 jam!” adalah ungkapan penuh makna. Dalam 24 jam itu, perubahan akan tercipta, dan para pengelola koran mesti siap menyikapinya secara produktif…



kata Oom Sugeng Sarjadi, “Good Point!” hehehe
SALAM PERSMA
saya kira koran pos kota adalah koran yg sangat bagus..disamping harga murah..bnyak aneka ragam berita disana,tp saya lihat penulisan berita membosankan,kwalitas kertas dan pewarnaannya kurang bagus,,saya pernah skali ke kota mataram.. dan saya beli beberapa koran.. ada juga koran yg bagus,,tolong di revisi lg koran pos kota,, contoh koran lain yg udah bagus,, seperti yg saya tau..klo ndak salah lombok pos ya?? ..
fm;yudhie surabaya
dear pos kota
saya orang yang lama di marketing, tapi di pharmasi……… belum lama ini saya lolos test menjadi manager sirkulasi koran,tapi setiap sy tanya hari kerja dan jam kerja tidak ada yang mau kasih penjelasan secara detail dan spesipik, saya boleh tanya apa SOP JOB Manager Sirkulasi ? Jam Kerjanya ? Hari kerjanya ? tks sebelumnya
salam…
saya sedang mencari sejarah dari harian poskota itu sendiri khususnya rubrik nah ini dia. saya sudah mencoba buka situsnya poskota tapi di dalamnya saya tidak menemukannya.
saya mo tanya, dimana saya harus mencarinya atau kalo boleh saya dikasih artikel atau sebagainya tentang sejarah poskota khususnya rubrik nah ini dia dan alamat email pak Gunarso sebagai penulis rubrik tersebut.
terima kasih…
mas ugi yth..
Jobdes sirkulasi sampai detik ini belum ada yg bisa meneremahkan..yang jelas bukan office hour masuk jam 8 pulang jam 5..loh kapan istirahatnya…yah memang begitulah konsekwensi kerja di sirkulasi media cetak//