Hiruk-p
ikuk media kampus (baca: media yang dikelola staf pengajar dan humas kampus) nampaknya tidak segegap-gempita pers mahasiswa yang dalam sejarah perjalanannya memang memiliki kait-mengait dengan aktivisme gerakan politik mahasiswa. Sejak di masa Orde Baru hingga era reformasi ini. Lazimnya di sebuah kampus, kehadiran media kampus merupakan sebuah keniscayaan, mengingat kampus sebagai wahana pengembangan keilmuan, membutuhkan medium untuk menyebarkan gagasan perkembangan ilmu maupun aktivitas lain di kampus bersangkutan.
Sungguh pun demikian, popularitas media kampus harus diakui tidak sebesar pers mahasiswa. Padahal, dari sisi bentuk dan populasinya, media kampus tidak kalah dengan pers mahasiswa. Mulai dari jurnal, majalah bulanan, radio kampus, TV kampus, hingga situs web. Apa yang menyebabkan popularitas media kampus masih tertinggal dari pers mahasiswa?
Harus diakui, meskipun kampus perguruan tinggi merupakan gudang dari pakar-pakar di bidang manajemen dan komunikasi, tidak dengan serta-merta mampu menjadikan pengelolaan (manajemen) media kampus bergerak sangat progresif, dalam konteks kualitas, kemasan, maupun “pemasaran”. Jamak diketahui, pada umumnya media-media kampus yang berserak di ratusan kampus se-Indonesia, masih dikelola secara sederhana. Sedikit sekali mendapati media kampus yang dikelola secara modern dan profesional.
Dengan sudut pandang cara pengelolaan yang masih konvensional demikian, denyut kehidupan media kampus memang tidak terlalu meriah. Berbeda dengan pers mahasiswa yang masih –sekurangnya— menyisakan bara idealisme para pengelolanya. Meskipun sama-sama memiliki kendala keterbatasan finansial.
Kerapkali saya mempertanyakan, apakah secara eksistensial media kampus yang berada di lingkungan kampus, juga hanya diposisikan sebagai ruang bereksperimen semata, sehingga pengelolaannya pun menjadi kurang optimal? Wajar bagi sebuah kampus untuk menyemai pelbagai eksperimentasi, sebagai wujud dari pengembangan keilmuan yang diemban seluruh civitas akademika, khususnya para staf pengajar. Namun, apakah tidak memungkinkan mengembangkan manajemen media kampus lebih maju lagi dengan segala keterbatasan yang ada selama ini?
Menurut saya, peluang bagi pengembangan manajemen media kampus sungguh masih terbuka lebar. Mari kita singkirkan dulu aspek keterbatasan dana. Dan mencoba membedahnya dari sumber-sumber non finansial.
Awalnya adalah Visi dan Misi
Secara fundamental, maju tidaknya perkembangan sebuah media –apapun itu, termasuk media kampus—sangat bergantung dari visi dan misi pengelolaan media bersangkutan. Hendak diarahkan ke mana penerbitan media tersebut? Dalam konteks media kampus, saya membayangkan media tersebut mesti diorientasikan kepada dua sasaran (segmen) pembaca yang relevan. Secara internal, ia adalah ruang bagi interaksi antar civitas akademika. Sementara secara eksternal, ia merupakan bagian dari strategi pencitraan kampus bersangkutan.
Dengan demikian, posisioning media kampus adalah sebuah media komunitas bagi sasaran pembaca warga kampus, maupun untuk sasaran (segmen) pembaca masyarakat intelektual di luar kampus. Khususnya mereka yang memiliki ikatan langsung (alumni) maupun tidak langsung (stakeholders non alumni).
Jika ini menjadi pijakan untuk dikembangkan sebagai basis pengelolaan, maka pengelola media kampus akan lebih mudah dalam mendesain konten dan kemasan media yang akan disajikan. Misalnya, format media kampus tersebut berbentuk jurnal. Sudah barang tentu, ia akan dikemas dalam kaidah-kaidah sebuah jurnal yang standar. Meskipun demikian, di era komodifikasi citra seperti sekarang ini, sebuah jurnal ilmiah pun tidak luput dari tuntutan untuk menampilkan citra produk yang (semi) populer. Ini bisa disiasati melalui penampilan kulit muka jurnal yang lebih eyecatching, misalnya. Sementara isinya tetap memiliki bobot lazimnya sebuah jurnal ilmiah.
Adapun media kampus non-jurnal, dalam pandangan saya jauh lebih leluasa untuk dieksplorasi dengan sejumlah gaya dan cara penampilan yang populer. Apabila sekarang dalam ranah media lokal komersial dikenal sebuah teori baru (Shaping the Future of Newspaper Report, 2007) bernama 4Ns –Newspapers, Neighbours, Niche and Network– maka media kampus harus mampu menjadikan dirinya menjadi “media super lokal”.
Pendekatan atau strategi 4Ns tersebut mengandaikan bahwa media-media komersil lokal kini harus mengubah orientasinya semakin tajam dan fokus lagi terhadap market di lingkungannya. Dalam teori komunikasi, dikenal sebutan market yang semakin narrow (jamak dipraktikkan pada media broadcast).
N pertama (Newspapers) diandaikan sebagai backbone media bersangkutan. Lalu N berikutnya (Neighbours), merupakan personifikasi atas fokus isi yang semakin hyper local, bahkan hingga menembus ruang-ruang di lingkungan blok atau gedung-gedung apartemen. Sedangkan N ketiga (Niche), dipahami sebagai bentuk membangun market pembaca melalui komunitas-komunitas berbasis hobi (interest). Dan N keempat (Network), adalah agregasi dari pendekatan kovensional dan digital media bersangkutan.
Media kampus non-jurnal jelas memiliki segala persyaratan untuk mengadopsi pendekatan 4Ns ini. Ia lahir di wilayah komunitas (kampus), memiliki pembaca yang terbangun dari beberapa kesamaan kepentingan (keilmuan), cakupan pembacanya juga berada persis di sekitarnya (areal kampus dan sekitarnya), dan memungkinkan diintegrasikan dengan layanan media digital yang juga dikembangkan oleh kampus bersangkutan.
Di era serba digital dan –saya suka menyebut ini— Generasi Google, nyaris tak banyak penghuni kampus yang belum melek internet. Karena itu, secara teoritis, media kampus konvensional (cetak dan penyiaran), dengan mudah bisa disinergikan (untuk tidak menyebut sebagai konvergensi, karena hingga saat ini belum ada satupun media komersial di Indonesia yang sudah konvergen) dengan media digital (web site). Pertanyaannya kini, bagaimana menyinergikan hal tersebut?
Sekali lagi, ini menyangkut persoalan manajemen, saya kira. Mulai dari manajemen SDM, konten atau produk, pemasaran, hingga manajemen keuangan.
Saya lebih senang menggunakan pakem-pakem media komersial meskipun sedang mendiskusikan ranah media kampus sekalipun. Bahkan pers mahasiswa. Karena diakui atau pun tidak, dalam praktiknya, para pengelola media kampus juga menerapkan pendekatan-pendekatan manajemen (dalam ukuran tertentu) yang lazim digunakan oleh media komersial.
Eksistensi media kampus cetak yang jauh lebih dahulu hadir ketimbang media kampus penyiaran dan digital, sudah barang tentu bisa ditempatkan sebagai backbone jaringan multimedia yang akan dikembangkan. Ia –media kampus cetak— tetap merupakan kapal bendera (flagship) media kampus. Nah, prasyarat terpenting bagi pembangunan media kampus yang multimedia, adalah terciptanya sebuah newsroom, yang dapat mengintegrasikan pengelolaan (konten, khususnya), agar antar format media kampus tidak saling overlap satu dengan yang lain.
Terbentuknya newsroom sekurangnya memiliki manfaat sebagai berikut:
- Mengintegrasikan konten antar format media di kampus.
- Memfokuskan strategi konten dan sasaran konsumen media (pembaca, pendengar, dan pemirsa).
- Mengefisiensikan pembiayaan.
- Memudahkan pengelolaan (dalam satu atap manajemen).
Integrasi newsroom selanjutnya akan mendorong proses integrasi manajemen yang lain, seperti SDM, pemasaran, dan keuangan. Dengan demikian, pengembangan media kampus jauh akan lebih terarah kepada segmen konsumen yang tepat, yang pada gilirannya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan (jika memungkinkan) pemasaran lewat penjualan ruang-ruang iklan.
Konten yang Melimpah
Sumber daya manusia kampus yang melimpah, saya kira merupakan sebuah keunggulan kompetitif yang dimiliki kampus bersangkutan dalam mengembangkan integrasi media kampus yang sudah diciptakan. Awareness dan penetrasi masyarakat kampus, khususnya mahasiswa terhadap teknologi informasi, memungkinkan untuk digandeng sebagai pemasok-pemasok konten cukup handal bagi media kampus.
Kini, sangat populer apa yang disebut dengan fenomena Blogger, untuk menyebut mereka yang memiliki situs blog tersendiri sebagai ruang berekspresi. Para blogger ini sebenarnya bisa digandeng dan diajak bekerjasama untuk mengembangkan kualitas dan kuantitas konten media kampus agar lebih kaya secara konten maupun kemasan. Tentu harus dipilih Blog-Blog tertentu yang memiliki kesamaan visi dan misi dengan konten yang dikembangkan oleh media kampus. Kerjasama konten dengan para blogger bisa dimanfaatkan media kampus versi digital maupun cetak.
Tinggal kini adalah soal pengaturan dan model kerjasama yang akan dikembangkan. Pada konteks inilah manajemen dari pengelola media kampus dituntut untuk mampu bertindak secara perform, agar kontribusi yang bisa disumbang warga kampus bagi pengembangan media kampus lebih optimal.
Dan semua itu relatif tidak membutuhkan sumber daya finansial yang besar. Dengan memanfaatkan aset-aset kampus yang sudah tersedia –infrastruktur fisik, laboratorium sains dan sosial, serta seluruh civitas akademika yang memiliki concern terhadap media kampus—saya kira eksistensi media kampus akan semakin berkibar di era multimedia dan generasi Google ini. Semoga. ***
Catatan: Tulisan ini merupakan bahan presentasi saya pada Forum Fasilitasi Media Kampus (Revitalisasi Media Kampus) yang diadakan oleh Depkominfo di Jogja, 22 – 23 Agustus 2007.



satu hal yang pasti,
orientasi media kampus berbeda dengan pers mahassiswa.
media kampus, terutama yang dikelola para dosen kampus, lebih banyak digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan poin bagi kenaikan pangkat.
jika demikian, amat wajar jika kualitas dinomorsekiankan.
Oya, mas Asmono, kok kegiatan SPS lebih banyak yang di pusat, kapan ada kegiatan nasional yang diadakan di daerah2.
satu lagi, kapan maen2 ke semarang lagi, mas.
salam
Nasrudin
LPM Justisia Fak. Syariah IAIN Walisongo Semarang
wah… pers kampus ya?
menurut saya sih, dibuat untuk promosi kampusnya aja. juag buat kenaikan pangkat. malah ada juga tuh yang bikin buat “ngabisin” dana.
pers kampus emang mengatas namakan kampus, tapi kalau di kampus saya, yang bikinnya bukan dosen kok. beberapa artikel sih memang dosen yg nulis, tapi selebinya nyuruh orang tuh….
jd wajar banget kualitasnya g duluin, kan yg penting terbit… dan isinya bagus-bagusin kampus+yayasan…
mas asmono pa kabar?
minta foto kongres kemarin donk…
wah….! menarik sekali bagi aku membahas perkara media kampus.
menurut aku, kita harus membedakan dulu antara Pers Mahasiswa dan Media Kampus. pada umumnya media kampus berada di bawah payung tangan-tangan besi penguasa kampus (rektorat) dan pun orientasi mereka sebagai ajang promosi kampus “som broek peulumah got”. semua isinya tak lari dari prestasi kampus.
sedangkan Pers mahasiswa beranjak dari pemikiran2 mahasiswa yang kritis melihat perkembangan masyarakat kampus dan masyarakat luar. pers mahasiswa biasanya berorientasi untuk melakukan perubahan, dengan cara membrikan informasi terutama seputar kampus kepada para mahasiswa lainnya. sehingga di harapkan para penguasa kampus tidak mengabaikan hak-hak dasar kita sebagai mahasiswa.
ini sudah terjadi di beberapa universitas besar di Aceh. seperti di Unsyiah, tabloid “warta Unsyiah” (punya biro) selalu mengangkat permasalahan yang membuat orang berdecak kagum. sedang pers mahasiswa “Tabloid Detak” memberitakan sebaliknya.
juga di IAIN Ar-Raniry dengan sumber postnya, di Universitas Muhammadiyah Aceh dengan Tabloid Lensa.
dan masih bnyak lainnya.