Senayan, Jakarta, 14 Januari 2008. Sehari jelang peringatan ”peristiwa lima belas januari” (Malari). Sebuah pertemuan reguler tiga bulan sekali, antara manajemen Aspex Paper –produsen kertas koran terbesar di negeri ini—dengan para penerbit media cetak yang mengkonsumsi kertas koran keluaran Aspex, kembali digelar. Seperti biasanya, pertemuan ini diselenggarakan di Dasol Restaurant, di komleks Taman Ria Senayan, Jakarta. Semestinya, pertemuan ini diselenggarakan akhir Desember tahun lalu.
Kehadiran saya bersama dua orang kawan kantor dalam pertemuan ini, untuk ikut memantau hasil perundingan antara mereka, sekaligus bersama Ketua Harian SPS Pusat M Ridlo ’Eisy dan Wakil Ketua Dewan Pers S Leo Batubara, sebagai juru bicara industri media cetak, khususnya konsumen Aspex.
Saya datang agak terlambat, sekitar pukul 18.45 WIB dari undangan yang dijadwalkan pukul 18.00 WIB. Ketika sampai di lokasi, rupanya sudah banyak peserta rapat yang hadir. Termasuk Mr Lee dan Mr Nicholas dari Aspex. Juga Pak Leo dan Pak Ridlo, serta lima orang perwakilan dari harian Kompas, Media Indonesia, dan Suara Pembaruan. Dua kawan lagi saya belum begitu kenal, tapi pasti mereka adalah konsumen Aspex.
Seperti sudah menjadi pola Aspex setiap kali mengajak kami untuk merundingkan harga patokan kertas koran untuk jangka waktu tiga bulan ke depan, selalu diawali dengan acara santap malam khas menu Korea. Saya pribadi sejujurnya tidak terlalu berselera menyantap masakan Korea. Walau saya akui, beberapa menu yang dihidangkan cukup lezat dan membuat air liur saya seakan-akan sudah sampai di bibir lidah hendak tumpah keluar. Heheheheheee….. Apa boleh buat, saya tetap harus menyantapnya, demi memenuhi kebutuhan perut yang mulai menagih hak-haknya.
Aura perundingan harga kertas koran malam itu, yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB usai santap malam, diwarnai sinyalemen bakal adanya kenaikan harga kertas koran. Pasalnya, sejak Juni 2006, harga kertas koran standar keluaran Aspex belum pernah naik lagi dari posisi USD 675/metrik ton (MT). Dalam kurun masa selama 1,5 tahun itu pula, kami –SPS Pusat dan para konsumen Aspex—berusaha menahan semaksimal mungkin agar tidak ada kenaikan harga kertas koran setiap kali Aspex mengajak kami berunding.
Namun, rupanya bagi Aspex tahun 2008 ini diawali dengan situasi yang kurang nyaman. Harga-harga bahan baku produksi kertas (pulp) semakin meningkat, pun dengan harga kertas koran bekas. Di Jepang, harga kertas koran standar sudah naik sebesar USD 80/MT pada akhir tahun lalu. Sementara di Amerika Utara, kenaikannya sekitar USD 30/MT.
Singkat cerita, dengan bekal situasi harga jual kertas koran di kawasan yang mengalami peningkatan harga cukup tinggi, Aspex menawarkan kenaikan harga kertas koran di Indonesia dalam kisaran USD 50 – 70/MT. Sebuah kenaikan harga yang cukup fantastis, di tengah situasi perekonomian dalam negeri yang masih jalan di tempat seperti sekarang. Tentu saja, suara keberatan pun langsung bermunculan. Alexander Stefanus dari Media Indonesia, misalnya, langsung keberatan dengan usulan Mr Lee tersebut. Pun dengan Leo Batubara. ”Saya kira, penerbit koran di Indonesia masih belum bisa keluar dari situasi sulit akhir-akhir ini. Apalagi komponen kertas merupakan the biggest production cost dalam struktur penerbitan koran, bahkan mengungguli struktur gaji, khususnya di Harian Media Indonesia,” ujar Alex, sapaan karib Alexander Stefanus.
Karenanya, masih Alex, seyogianya kalau ada kenaikan harga, maka cukup sebesar USD 10/MT saja. Usulannya mendapat dukungan dari Ridlo dan kawan-kawan penerbit lain. Namun dengan nada berkelakar, Lee lantas menyahut, ”Okaylah kenaikan sebesar USD 10/MT, tapi berlaku tiap minggu,” yang ditimpali dengan tawa lepasnya tapi terasa kecut di benak kawan-kawan penerbit yang hadir.
Setelah bernegosiasi sesaat, akhirnya disepakati kenaikan harga kertas koran produksi Aspex menjadi USD 30/MT, yang berlaku efektif per Januari sampai 31 Maret 2008. Pada akhir Maret nanti akan dievaluasi lagi, sekiranya situasi harga kertas di kawasan lain masih tinggi, ada kemungkinan kenaikan harga kertas koran keluaran Aspex akan kembali naik. Apalagi sedari awal Aspex telah mengindikasikan kenaikan harga antara USD 50 – 70/MT.
Harga kertas koran yang diproduksi Aspex selama ini merupakan barometer bagi perkembangan harga kertas-kertas koran lain di pasaran domestik. Dalam situasi pasar liberal seperti saat ini, penerbit koran memang bebas memilih akan mengkonsumsi kertas koran keluaran pabrikan mana saja. Karena itu, jika salah satu penerbit konsumen kertas koran Aspex menolak kenaikan harga seperti saat ini, maka pilihannya adalah mencari produsen kertas pengganti.
Sebagai barometer harga kertas koran di pasaran domestik, secara rata-rata harga kertas koran Aspex lebih mahal ketimbang harga kertas koran keluaran pabrik-pabrik lokal yang lain. Seperti Gede Karang milik Pos Kota atau Suparma milik Jawa Pos Grup. Toh demikian, meski terbilang relatif mahal, sepertinya saya melihat ”loyalitas” penerbit koran yang menggunakan produksi Aspex tak banyak berkurang. Apalagi pasokan kertas sebenarnya tidak terlalu berlimpah di negeri ini, khususnya kertas koran. Beberapa produsen kertas koran legendaris seperti Leces, misalnya, bahkan belakangan lebih memilih untuk memproduksi kertas HVS ketimbang kertas koran. Pasalnya, nilai ekonomis kertas HVS lebih tinggi ketimbang kertas koran.
Penerbit koran jelas berada dalam posisi yang paling sulit ketika menghadapi situasi kenaikan harga kertas koran seperti saat ini. Seperti diungkap Alex, komponen kertas masih merupakan komponen terbesar dalam struktur biaya produksi di penerbit koran harian. Belum lagi, setiap pembelian kertas koran, mereka masih dikenai PPN sebesar 10% yang disetor kepada negara. Beban di pundak penerbit koran menjadi makin berlipat.
Itulah sebabnya, upaya memperjuangkan pembebasan PPN bagi pembelian kertas koran, adalah sebuah langkah strategis untuk ”menyelamatkan” penerbitan pers di tanah air, dari gulungan beban yang disandangnya. Belum lagi dengan adanya fenomena digitalisasi media. Kelak, koran dalam wujud digital akan menjadi sebuah ”ancaman serius” bagi eksistensi media cetak. Walaupun sampai 20 tahun akan datang, optimisme bakal punahnya media cetak masih sangat sumir. Justru di berbagai belahan dunia, para penerbit media cetak getol mengampanyekan koran bagi pembaca-pembaca muda (young readers), sekalipun mereka tahu pasti, anak-anak muda zaman sekarang di mana-mana adalah konsumen utama digital media.
So? Meski termehek-mehek dibebani kenaikan harga kertas koran, semangat idealisme penerbit koran terlihat masih membara. Sepanas bara mereka dalam memacu pendapatan dari iklan maupun sektor pendukung lainnya. Malah, belakangan, muncul ”mainan anyar” untuk mengawinkan teknologi digital dan mobile, guna mendongkrak pendapatan mereka dari konsumen pembacanya. Sebuah upaya cerdas para penerbit di tengah tak menentunya situasi ekonomi makro global dan lokal. ***



apakah ada pertemuan lanjutan yang bertkaitan dengan kenaikan harga kertas koran pada bulan April?lalu, siapa saja yang menjadi konsumen PT. Aspex Kumbong?
dengan kenaikan harga yang dilakukan oleh PT. Aspex Kumbong, rumornya diikuti oleh 7 perusahaan kertas koran yang lain, apakah benar?