Perubahan format tampaknya menjadi isu dan adaptasi kunci para penerbit suratkabar dalam kurun dua tahun terakhir. Harian Suara Merdeka Semarang, adalah koran yang termasuk paling akhir (sampai medio 2007) yang mengadopsi format junior broadsheet, akhir Februari lalu. Sebenarnya masih ada dua harian cukup legendaris yang belum merubah formatnya sampai November 2007. Mereka adalah Harian Analisa dan Sinar Indonesia Baru (SIB) di Medan.
Tahun 2006 juga ditandai dengan kelahiran sejumlah media cetak anyar –harian, mingguan, dan bulanan. Salah satu yang menyedot perhatian penting adalah penerbitan majalah Playboy edisi Indonesia pada bulan April. Adapun di tahun 2007, nyaris tidak ada penerbitan suratkabar harian yang baru. Hanya saja, beberapa majalah baru dari kelompok Femina dan MRA hadir di pasar. Menambah barisan majalah-majalah lisensi di tanah air. Belakangan, MRA, terutama, memang dikenal sebagai kelompok usaha penerbitan yang fokus mengelola majalah-majalah lisensi.
Ranumnya pasar majalah lisensi inilah yang akhirnya mendorong kelompok-kelompok usaha penerbitan lawas maupun baru untuk melirik pasar majalah lisensi sebagai peluang bagi pertumbuhan baru industri majalah di Indonesia.
Sementara itu, Harian Jurnal Nasional, yang terbit perdana bulan Juni 2006, mencoba menggabungkan format digital dengan cetaknya. Gagasan utama harian ini awalnya adalah menjadi koran digital pertama di Indonesia. Setelah Harian Seputar Indonesia (SINDO) yang disokong penuh grup Media Nusantara Citra (MNC) yang terbit pada Juni tahun 2005, penerbitan Harian Jurnal Nasional boleh dibilang cukup menyita perhatian publik media di Indonesia. Pasalnya, tesis yang berkembang di lingkungan industri media cetak beberapa tahun terakhir ini, menyatakan bahwa sangat sulit menerbitkan sebuah harian berskala nasional dalam situasi industri media yang dinilai mengalami stagnasi pertumbuhan oplah dan pembaca.
Kompetisi media cetak, khususnya di segmen suratkabar harian umum jelas semakin menajam. Setajam persaingan di sejumlah segmen media cetak lainnya. Macam segmen majalah wanita, majalah pria, tabloid wanita, dan koran-koran daerah, terutama yang beredar di tingkat regional.
Secara umum, penetrasi pembaca media cetak di tanah air memang berkembang kurang menggembirakan. Merujuk data Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, per Desember 2005 lalu, total oplah beredar seluruh media cetak di Indonesia hanya mencapai 17,5 juta eksemplar. Dari jumlah sebanyak itu, 245 suratkabar harian yang terdata SPS, menyumbang sekitar 7,3 juta eksemplar per hari.
Namun tahun 2006 justru terjadi penurunan. Meski jumlah suratkabar harian yang terdata SPS Pusat bertambah menjadi 251 penerbitan, tiras beredar justru terkoreksi menjadi 6,026 juta eksemplar (Lihat Tabel 1). Sementara total tiras semua penerbitan cetak sebanyak 17,374 juta eksemplar. Menurun tipis dibanding posisi 2005.
Asumsikan setiap eksemplar suratkabar harian dibaca oleh empat orang, maka populasi pembaca suratkabar harian di negeri ini baru mencapai 29,2 juta. Hampir mendekati populasi pesawat televisi yang konon telah mencapai lebih dari 30 juta unit rumah tangga dari sekitar 50 juta rumah tangga di Indonesia. Mengikuti model perbandingan UNESCO, rasio oplah koran harian dan penduduk Indonesia, adalah sebesar 1:30. Masih cukup jauh dari rasio standar UNESCO yang ditetapkan 1:10.
Sementara pengguna internet di Indonesia kini diperkirakan mencapai 20 juta orang dengan 6 juta diantaranya sebagai pelanggan. Diharapkan tahun 2007 jumlah pelanggan internet akan tumbuh menjadi 7,5 juta dan pengguna bertambah menjadi 25 juta orang (Bisnis Indonesia, Selasa, 9 Januari 2007).
Tabel-1
Jumlah Penerbit Pers Tahun 2006
|
No. |
Jenis Penerbitan |
Jumlah |
|
|
Penerbitan |
Tiras |
||
|
1. |
Suratkabar Harian |
251 |
6.026.486 |
|
2. |
Suratkabar Mingguan |
235 |
1.081.953 |
|
3. |
Tabloid |
142 |
4.732.055 |
|
4. |
Majalah |
258 |
5.525.857 |
|
5. |
Buletin |
3 |
7.809 |
|
|
Jumlah |
889 |
17.374.160 |
Sumber: Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, 2007.
Tabel-2
Perbandingan Kepemilikan TV,
Penetrasi Suratkabar dan Internet Tahun 2006
|
Populasi |
Jumlah TV (Unit) |
Oplah SKH |
Pelanggan Internet |
|
230 juta jiwa |
30 juta |
6,03 juta eks |
6 juta orang |
Sumber: SPS Pusat 2006, Bisnis Indonesia (9 Januari 2007).
Upaya menggenjot oplah suratkabar harian, terutama, bagaikan dilema yang tak habis-habisnya. Pasalnya, setiap kenaikan eksemplar tercetak koran, akan berakibat pada kenaikan biaya produksi yang belum tentu akan mampu ditutupi oleh perolehan iklan yang masuk. Karena itu, menjadi masuk akal jika sampai penghujung 2007, belum ada satu pun koran harian di Indonesia yang mampu menjejak oplah tercetak per hari sebanyak 1 juta eksemplar (bandingkan dengan situasi di Jepang, China, dan India).
Strategi yang lebih masuk akal dalam upaya mengembangkan bisnis industri media cetak saat ini, tak lain difokuskan pada penggarapan pasar-pasar pengiklan. Baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi.
Pada tahun 2005 – 2007 kita juga menjumpai berkecambahnya penerbitan komunitas, terutama di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Kelompok usaha penerbitan FEMINA, misalnya, hadir dengan beberapa produk tabloid berlabel SUPERSTAR, di wilayah Kelapa Gading, Bintaro, Serpong, dan sebagainya. Pun dengan Infomedia Nusantara. Sementara Kelompok usaha Info Kelapa Gading memasuki Serpong dan sekitarnya melalui majalah Info Serpong. Adapun Bali Post mencoba memasuki Jakarta dengan koran gratisnya Bisnis Jakarta.
Lebih tajam, di sejumlah pusat perbelanjaan dan tempat-tempat nongkrong eksekutif muda, bertaburan penerbitan-penerbitan komunitas yang lebih sempit (niche) pasarnya. Mereka hadir dalam sebuah kolaborasi bentuk antara newsletter dan brosur. Kebutuhan berpromosi para pengelola pusat perbelanjaan dan cafe-cafe di seputaran Jakarta, dan kehausan informasi para pelanggan sentra-sentra belanja dan penyaluran gaya hidup metro, diakomodasi para pengelola majalah-majalah komunitas ini.
Majalah-majalah komunitas semacam ini tidak terlalu silau dengan urusan sirkulasi penjualan media mereka. Justru yang hendak mereka bidik adalah eksposur dan penetrasi yang luas pada target yang fokus dan tepat (para penikmat gaya hidup modern dan metropolitan yang berpendapatan menengah ke atas), di lokasi-lokasi yang tepat pula. Harapannya, para pemasang iklan akan memperoleh eksposur yang juga tepat sasaran dan mendalam. Iklan, karenanya, adalah nafas kehidupan bagi majalah-majalah komunitas tersebut. Tanpa iklan, mereka tak akan mampu hadir di sana.
Tren Pasar 2008
Meminjam teori Prof W Chan Kim dan Renee Mouborgne, dalam bukunya Blue Ocean Strategy, kehadiran majalah-majalah komunitas berbasis geografis maupun psikografis itu, adalah bentuk penyikapan menghindari wilayah ”Red Ocean” dan membidik kawasan pasar ”Blue Ocean”. Ketimbang berdesakan, berhimpit, dan kemudian menjadi berdarah-darah bertempur dengan pesaing yang lebih mapan di segmen umum, lebih baik memasuki kawasan yang nyaris tanpa kompetitor berarti.
Ditarik dalam konstelasi pasar periklanan nasional, cara dan strategi di atas jelas sangat tepat dan masuk akal. Ini menilik kondisi percaturan industri periklanan yang dalam kurun dua tahun terakhir terus mengalami tekanan kuat dari perusahaan-perusahaan periklanan afiliasi global. Dengan penguasaan billing iklan sangat besar dari klien-klien multinasional, perusahaan-perusahaan periklanan multinasional, khususnya media spesialis, berani menekan para penerbit media cetak maupun pengelola stasiun televisi dan radio, lewat penawaran diskon dan bonus yang besar.
Indikator-indikator ekonomi makro ekonomi kita sejatinya cukup menggembirakan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus meroket dan menembus angka 1.803,26 pada 27 Desember 2006 lalu (bahkan per April 2007 sudah menembus angka 2000). Pendapatan perkapita masyarakat juga terus bergerak mendekati angka US$ 1.200. Inflasi juga semakin terkendali, pun dengan pertumbuhan ekonomi yang hampir mendekati target, pada kisaran 5,5 persen, menurut versi pemerintah. Belakangan, diproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun 2007 menjejak pada angka 6,3 persen sebagaimana perkiraan Bank Dunia.
Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Jhoachim Von Amsberg menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2008 diperkirakan juga akan meningkat menjadi 6,4 persen dari pertumbuhan ekonomi tahun 2007 yang diperkirakan mencapai 6,3 persen meski terjadi kenaikan harga minyak. ”Proyeksi makro ekonomi Indonesia stabil dan positif,”, seperti dikutip ANTARA News (7/11/07). Menurut dia, pertumbuhan ekonomi 2008 akan ditopang oleh pertumbuhan investasi yang diperkirakan meningkat menjadi 10,6 persen dibandingkan investasi 2007 yang diperkirakan mencapai 7,7 persen.
Sedangkan untuk inflasi pihaknya memperkirakan akan turun menjadi 6,0 persen dibandingkan tahun 2007 yang diperkirakan mencapai 6,5 persen. Menurut dia, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia salah satunya didorong oleh ekspor komoditas seperti perkebunan, pertambangan, mineral, minyak dan gas yang semakin menguat dibandingkan ekspor manufaktur.
Namun demikian ia mengingatkan, Indonesia bisa saja menikmati pertumbuhan ekonomi tersebut dalam lingkungan internasional yang baik dan kenaikan harga komoditas, namun hal itu masih sangat rapuh dan rentan terhadap penurunan ekonomi global.
Walaupun diperkirakan sampai akhir 2007 pertumbuhan ekonomi nasional terus membaik, sayangnya indikator kemiskinan dan pengangguran menampakkan wajah yang berkebalikan. Jumlah penduduk miskin terus bertambah dan mencapai angka 39,5 juta jiwa pada Maret 2006. Adapun pengangguran mendaki posisi 11 juta jiwa. Celakanya, jika proyeksi LIPI benar, angka pengangguran pada tahun 2007 juga diperkirakan akan terus membengkak menjadi 12,7 juta jiwa, dan jumlah penduduk miskin kembali meroket menjadi 45,7 juta jiwa.
Akibat dari tekanan-tekanan tersebut, daya beli masyarakat juga terus menurun. Lebih khusus pada pembelian media. Pembelian media cetak semakin kuat didominasi pola-pola eceran (single copy). Penerbit media cetak, melalui agen hingga loper dan lapak mereka, saling bertarung, berkelahi, dan berhimpit, menjajakan produk mereka di jalan-jalan raya.
Bagi mereka yang mencoba kritis, memang kemudian mengambil wilayah pasar dan strategi pemasaran yang berbeda, seperti ditunjukkan oleh media-media komunitas tadi. Atau mencoba membangun komunitas pembacanya tersendiri lewat serangkaian upaya penetrasi dengan gaya yang nonkonvensional, tanpa melalui agen, tapi langsung mencapai pelanggan yang dibidik.
Kembali ke soal pasar iklan. Indikator makro belanja iklan sebagaimana diprediksi ACNielsen Indonesia sesungguhnya tidak jelek-jelek amat. Tahun 2007 diperkirakan belanja iklan akan mencapai angka Rp 30 triliun. Dari angka sebesar itu, sekitar Rp 9,5 triliun akan dinikmati media cetak, dengan suratkabar harian memperoleh porsi Rp 8 triliun on gross (lihat Tabel-3). Kalau dihitung netto, kira-kira tinggal sekitar Rp 5 triliun saja!
Tabel-3
Belanja Iklan 2002 – 2007 (Rp Miliar)
|
Media |
2003 |
2004 |
2005 |
2006* |
2007** |
|
Televisi |
11.660 |
15.469 |
17.756 |
18.999 |
20.898 |
|
Suratkabar |
5.325 |
7.226 |
7.498 |
8.173 |
8.990 |
|
Majalah |
682 |
848 |
890 |
917 |
1.010 |
|
Tabloid |
310 |
350 |
398 |
406 |
447 |
|
Radio |
491 |
612 |
537 |
518 |
570 |
|
Outdoor |
625 |
725 |
834 |
834 |
917 |
|
Jumlah |
19.093 |
25.230 |
27.913 |
29.847 |
32.832 |
Sumber: Media Scene 2005 – 2006.
*) Estimasi Media Scene.
**) Proyeksi Penulis
Dengan tingkat pertumbuhan belanja iklan per tahun antara 20 – 25 persen, rasanya tahun 2007 ini potensi iklan akan terus bergerak naik secara nasional. Optimisme pertumbuhan positif pada 2007 disuarakan sejumlah penerbit yang pernah dihubungi SPS Pusat untuk kepentingan penerbitan buku Media Directory Indonesia 2007. Herman Darmo, Direktur Indopersda Primamedia, misalnya, menyebut angka 20 persen bagi tingkat pertumbuhan iklan media cetak 2007. Sementara Soeparno Wonokromo, pemimpin kelompok usaha Sumatera Ekspres, mengindikasikan angka 15 – 20 persen. “Apalagi harian yang saya pimpin, Sumatera Ekspres, tahun 2006 mampu tumbuh (iklan) sebesar 21 persen,” ujarnya dengan nada bangga.[1]
Laporan ACNielsen yang dirilis Bisnis Indonesia (30/11/07) menarik untuk ditelusuri. Disebutkan dalam laporan tersebut, belanja iklan koran diprediksi akan terus meningkat bahkan pertumbuhannya menyalib pertumbuhan belanja iklan untuk televisi. Dalam surveinya terhadap 108 penerbit koran harian di seluruh tanah air pada periode Januari – September 2007, Nielsen mencatat pertumbuhan kue iklan koran sebesar 27,8% selama periode itu, dengan nilai belanja iklan koran mencapai Rp 7,8 triliun (on gross). Periode sama tahun 2006 kue iklan koran harian sebesar Rp 6,1 triliun (on gross). Volume pertumbuhan sebesar itu lebih tinggi dibanding pertumbuhan tahun 2005 – 2006 yang sebesar 23%.
Sementara kue iklan televisi pada periode sama tahun 2007 tercatat senilai Rp 16,9 triliun (on gross), naik 12% dibanding periode Januari – September 2006. Dalam penilaian Maika Randini, Manager Business Development ACNielsen Indonesia, kenaikan kue iklan koran itu karena koran memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan dengan televisi.
Pertumbuhan belanja iklan di koran bisa lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan belanja iklan di televisi lantaran kategori iklan terbanyak yang diiklankan selama ini membutuhkan pemunculan lebih banyak informasi yang lebih detil. Dan iklan semacam itu lebih pas untuk dikomunikasikan lewat media cetak ketimbang televisi yang hanya menciptaan awareness. Telekomunikasi dan sepeda motor disebut sebagai dua kategori produk yang banyak muncul di koran dan televisi.
Lantas bagaimana dengan proyeksi pertumbuhan iklan tahun 2008? Melihat hasil survei seperti itu, ACNielsen Indonesia optimis pertumbuhan iklan koran akan terus meningkat hingga kisaran 30% pada tahun 2008.
Yang juga menggembirakan, pada tahun 2007 pemerintah tidak menaikkan tarif telepon rumah (jaringan tetap) lokal, meskipun aturan interkoneksi berbasis biaya secara resmi mulai diterapkan tanggal 1 Januari 2007 (Bisnis Indonesia, 28 Desember 2006). Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan teledensitas saluran tetap menjadi 8 persen pada tahun 2007, dari posisi tahun 2006 yang mencapai 6%. Jika harus memilih, mungkin konsumen akan lebih menempatkan jasa layanan telepon tetap yang dimilikinya ketimbang harus mempertahankan berlangganan media cetak. Media cetak, belum menjadi bagian dari prioritas perencanaan pembelian yang lazim dilakukan masyarakat secara luas.
Dalam kurun lima tahun terakhir, tiras media cetak sulit sekali bergerak progresif. Kalkulasi pertambahan oplah sangat sensitif, dan hanya akan masuk dalam perhitungan manakala dibarengi dengan pendapatan iklan yang memadai.
Pendek kata, mendongkrak oplah dan pada gilirannya menambah jumlah pelanggan baru –terutama pada koran-koran yang sudah mapan dengan tingkat penetrasi oplah sangat stabil—merupakan sebuah perjuangan luar biasa yang harus dilakukan oleh penerbit. Agak berbeda dengan target mendongkrak pendapatan dari iklan, yang cenderung berwajah sangat optimis untuk bisa diperoleh pada tahun 2007 dan 2008.
Lalu bagaimana menjelaskan fakta beberapa koran terbitan baru yang ternyata memperoleh kepercayaan dari pembaca dan pengiklan selama tahun 2006 dan 2007? Dalam pengamatan saya, sebenarnya indikasi pertumbuhan pembaca dan pengiklan mereka belum mencapai titik stabilitas yang mencukupi. Mereka masih memerlukan waktu dan strategi untuk menggarap pasar-pasar pertumbuhan baru yang sebenarnya juga selama ini telah dilirik oleh koran-koran yang sudah eksis terlebih dahulu.
Menjadi menarik menunggu bagaimana strategi para pemain suratkabar harian yang masih tergolong anyar tersebut dalam menghadapi persaingan di pasar dengan suratkabar harian yang sebelumnya telah menghuni pasar yang nyaris sama ini. Jurus-jurus membuat edisi-edisi lokal oleh koran-koran terbitan Jakarta, misalnya, kini akan bertambah seru setelah beberapa pemain dari Jakarta melakukan hal itu di beberapa daerah. Kompas telah memulai dengan edisi Jawa Barat, Jateng dan Jogjakarta, serta edisi Jawa Timur.
Sementara Seputar Indonesia (SINDO) juga melakukan gerakan yang sama, membuat edisi-edisi daerah. Antara lain edisi Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah & DIY.
Mengapa daerah menjadi wilayah bidikan bagi para penerbit koran-koran harian dari Jakarta? ”Karena pasar koran di daerah memang menguntungkan dan tampaknya tahun 2007 masih akan menciptakan keuntungan yang positif,” kata Agung Adiprasetyo.[2] Ia memang benar. Seperti juga dialami harian Sumatera Ekspres sebagaimana pengakuan pemimpinnya, Soeparno di atas.
Lebih tajam, kompetisi pasar diantara koran-koran daerah, kini telah bergeser tak lagi sebatas perang antarkelompok (usaha) penerbit koran bersangkutan. Katakanlah kelompok Jawa Pos vs Kelompok Kompas Gramedia. Melainkan, ”Persaingannya sudah beralih pada upaya memperebutkan brand equity dari masing-masing koran,” ungkap Herman Darmo.[3]
Jelas ini sebuah gejala menarik. Nama besar dibalik para penerbit koran-koran daerah tersebut, tak lagi menjadi senjata utama dalam menggedor pasar. Melainkan benar-benar terletak pada strategi mengelola dan menciptakan produk yang bagus dan bernilai jual, serta kelihaian dalam mengkomunikasikannya kepada pasar pembaca maupun pengiklan.
Mencermati situasi dan dinamika industri yang berkembang pada tahun 2006 dan 2007, maka tahun 2008 tampaknya akan menjadi tahun kritikal bagi para pelaku industri pers, terkait dengan agenda politik pemilihan umum yang akan berlangsung tahun 2009. Praktis, setahun menjelang pemilu 2009, energi akan lebih banyak dicurahkan pada perhelatan politik nasional tersebut. Karenanya, tahun 2008 boleh dikatakan sebagai tahun untuk melakukan ekspansi dan menggenjot aktivitas pemasaran, sebelum kemudian agak menurun lagi aktivitasnya sepanjang 2009.
Saya meyakini, tahun 2008 merupakan momen yang baik untuk mengerahkan strategi pemasaran yang seinovatif dan seagresif mungkin bagi para pelaku industri pers, khususnya media cetak, dalam membidik pasar pengiklan maupun pembaca. Sungguh pun demikian, meski tren perbaikan tampaknya memayungi sepanjang tahun 2007 ini, para pengelola media cetak juga mesti hati-hati untuk tidak bersikap jor-joran. Perencanaan yang selektif dengan mempertimbangkan kapasitas yang dimiliki, akan jauh lebih baik ketimbang membombardir pasar dengan eksposur promo yang besar-besaran tanpa dibarengi strategi yang terfokus pada segmen pasar bidikannya.
Karenanya, ancaman terbesar bagi upaya mengembangkan pasar setiap penerbit, justru bukan berasal dari persaingan dengan televisi, internet, maupun radio. Melainkan bersumber dari ketidakmampuan membaca potensi dan meletakkan fokus target pemasaran yang hendak dibidik medianya masing-masing. Termasuk dalam wilayah ini adalah keengganan untuk terus-menerus melakukan inovasi, memperbaiki kualitas isi sebagaimana tuntutan pembaca, serta bersikap proaktif kepada pasar.
Garap Komunitas
Salah satu potensi pasar media cetak –terutama di daerah—yang masih bisa dikembangkan menurut saya adalah berbasis komunitas. Pada tingkatan merek, kini semakin berkembang pola-pola komunikasi dan pemasaran bersandar khalayak komunitas. Semakin banyak merek produk yang memahami bahwa komunitas merupakan kanal terbaik untuk berkomunikasi. Mulai dari komunitas arisan ibu-ibu, komunitas penggemar mobil dan motor besar, komunitas perajin, komunitas penggemar musik country, komunitas suporter bola, dll.
Komunitas mempunyai kekuatan yang cukup dahsyat: Efisien dan Efektif. Pertama, komunitas menciptakan relationship customer, loyal customer, dan advocator customer. Kedua, komunitas sangat murah untuk melakukan customer acquisition. Komunitas adalah salesman yang sangat fanatik akan sebuah merek. Ketiga, dari komunitas akan dapat masukan yang sangat fokus dan akurat untuk pengembangan sebuah merek. Dan keempat, peer to peer customer service, layanan antar anggota komunitas. Banyak perusahan yang menyadari pentingnya sebuah komunitas. Program memberships adalah contoh yang dibentuk sebuah merek untuk meningkatkan hubungan mereka dengan pelanggan. Adakah contohnya dalam bisnis media cetak kita?
Mari kita lihat satu contoh menarik yang dilakukan Tabloid Bola Mania di Semarang. Meskipun belum terlalu optimal, mereka terus mengembangkan dan menyempurnakan konsep produknya, serta mengejar khalayak komunitas penggila bola. Sasaran mereka adalah kelompok-kelompok suporter. Seperti Pasopati, Slemania, The Jak Mania, Brajamusti, dll. Kelompok-kelompok suporter itu tak cuma menjadi ”pasar pembaca” saja. Tapi –menurut pengakuan Legiman Misdiyono[4]— suporter itu juga akan diaktifkan sebagai distributor Bola Mania. Malah lebih maju lagi, kelak mereka akan semakin diberdayakan secara ekonomi untuk menjadi distributor voucher, dll.[5]
Konfigurasi antara produk inti (penerbitan cetak) dengan dukungan komunitas yang bisa dikembangkan menjadi pasar potensial bukan saja bagi penerbitan cetak, tapi juga untuk ”kendaraan pasar” produk-produk lain yang bisa dikaitkan, kini adalah sebuah keniscayaan bagi para pemain media cetak. Tak hanya di Jakarta, tapi –dalam hemat saya—harus mengular ke daerah-daerah.
Kendaraan bagi Integrasi Newsroom
World Editors Forum (WEF) dalam buku laporannya terbaru tahun 2007 yang bertajuk ”Trends in Newsrooms 2007” memaparkan gempita menuju perubahan integrasi newsroom yang tengah berlangsung pada suratkabar-suratkabar di berbagai penjuru dunia. Meski belum begitu massif, WEF bersandarkan survei yang dibuatnya akhir 2006 dengan melibatkan 435 senior editor dari seluruh dunia, menyampaikan beberapa temuan menarik terkait tren newsrooms tahun ini dan proyeksi 10 tahun ke depan.
Pertama, Kehadiran free newspaper yang akan semakin menjadi ancaman bagi penerbitan-penerbitan konvensional (paid daily newspapers). Ancaman itu akan lebih besar dirasakan bagi suratkabar-suratkabar di Eropa –di mana fenomena free newspapers lahir dan kian menguat—dan terutama juga bagi koran-koran dengan oplah kecil (kurang dari 200 ribu eks).
Kedua, kehadiran versi online atau media baru dalam bentuk digital, juga masih lebih banyak dipandang sebagai Edisi Tambahan (79%) dibanding merupakan ancaman bagi eksistensi media cetak (5%).
Ketiga, kecenderungan besar menunjukkan bahwa para editor media cetak dalam survei ini meyakini kelak semua informasi (cetak dan online) akan bergerak menjadi Gratis (48%). Bertolak belakang dengan ini, 39% menolak asumsi itu. Malah di AS, prediksi bahwa informasi berita akan menjadi komoditas gratisan lebih tinggi (63%).
Keempat, media cetak di masa depan –mungkin tidak terlalu lama— tak lagi menjadi media utama melainkan media online (40%). Sementara itu, 35% responden tetap yakin bahwa hingga 10 tahun ke depan media cetak masih akan tampil sebagai media utama bagi para pembaca, umumnya ini bagi negara-negara berkembang. Dan saya yakin termasuk kita di Indonesia.
Kelima, kualitas jurnalisme dalam 10 tahun mendatang akan semakin meningkat. Responden yang tidak yakin bahwa kualitas jurnalisme yang dikembangkannya akan semakin membaik, ternyata berkorelasi dengan penurunan sirkulasi yang dialami media mereka. Sementara responden yang optimistik akan muncul perbaikan dalam mutu jurnalistik memang berasal dari koran-koran yang dalam kurun lima tahun terakhir menikmati pertumbuhan sirkulasi. Ada korelasi positif antara pesimisme peningkatan kualitas jurnalistik dengan penurunan sirkulasi koran.
Keenam, ancaman di masa depan terhadap independensi redaksi ternyata sumber terbesar berasal dari tekanan pengiklan (28%) dan tekanan pemilik saham (26%). Tekanan dari kekuatan politik hanya diperkirakan oleh 19% responden. Di negara-negara kaya, sumber tekanan berasal dari para pemilik saham, sementara di negara-negara berkembang, diyakini tekanan itu bersumber dari berbagai kekuatan politik.
Ketujuh, apapun tampaknya optimisme terhadap masa depan suratkabar masih tinggi disuarakan para responden survei WEF ini. Suara paling optimis berasal dari para penerbit koran di Eropa. Dan secara umum, koran-koran besar memang menaruh optimisme lebih besar dibanding penerbit koran kecil.
Digitalisasi Suratkabar
Di luar sejumlah tren yang dikemukakan dari hasil survei WEF, tampaknya perkembangan digitalisasi media di luar negeri kini semakin melesat. Beberapa fenomena terbaru dari hasil diversifikasi saluran (media) untuk menyampaikan berita kepada khalayak secara tailor made akibat fragmentasi pasar, coba dilakukan para penerbit di berbagai negara maju.
Yomiuri Shimbun dan Nikkei di Jepang, misalnya. Sejak tahun lalu, mencermati pertumbuhan luar biasa pada pasar telepon seluler di Jepang, Yomiuri Shimbun merilis edisi pemberitaan mereka lewat teknologi podcast, yang diberi titel ”a 6am”. Adapun koran bisnis Nikkei meluncurkan ”a 10 minutes” morning podcast, yang tampil sama dengan edisi cetak mereka. Di AS, juga sekurangnya terdapat dua koran yang sudah memanfaatkan teknologi podcast untuk melayani kebutuhan dan permintaan pasar pembaca mereka. Masing-masing The San Francisco Cronicle dan Naples News.
Pada awalnya, koran-koran itu belum mampu memproduksi berita dalam teknologi podcast yang benar-benar bernuansa audio stereo, seperti program di radio pada umumnya. Apalagi, berita yang dirilis melalui podcast ini tidak bersifat live, karena harus di-download terlebih dahulu dari internet untuk selanjutnya bisa direkam di MP3 player masing-masing.
Apapun, ini merupakan sebuah pengembangan pasar baru bagi penerbit suratkabar di seluruh dunia dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital masa kini. Bagaimana kita di Indonesia, apakah sudah ada yang melirik hal yang sama? Saya kira belum satu pun!
Dengan demikian, situasi pasar media cetak pada tahun 2008 dalam hemat saya sejatinya tidak akan banyak berubah dibanding tahun 2006 dan 2007. Pemain-pemain utama di setiap kategori media –suratkabar, majalah, maupun tabloid—masih akan tetap dikuasai oleh pemain-pemain lama. Peran kelompok usaha terasa semakin menonjol. Ada kekuatan (power) yang lebih dimiliki oleh media dari kelompok usaha penerbitan dibanding media yang berdiri sendiri (non-group).
Tahun 2008 menurut saya akan menjadi momen atraksi industri media yang betul-betul eksplosif. Siapa yang lebih kreatif dan inovatif, akan tampil sebagai pemenang di pasar. Apalagi, tahun 2008 hanya tinggal setahun menjelang hajatan politik nasional: Pemilu 2009. Media, rasanya, sedikit banyak akan terpengaruh dengan suhu dan akibat dari tarik-menarik berbagai kekuatan politik yang akan bertarung pada Pemilu 2009. Meski saya yakin betul, media, khususnya suratkabar harian yang telah mapan, tidak akan terseret kepada pusaran arus politik yang kian menghangat itu. Karena media pada dasarnya adalah lembaga yang independent. Tanpa itu, sejak dulu media pasti akan bangkrut! Karena bertindak partisan dan ditinggalkan oleh pembacanya.
Sumber Kutipan:
1] . Media Directory Indonesia 2007, Serikat Penerbit Suratkabar Pusat dan Infomedia Nusantara.
[2] . Media Directory Indonesia 2007, Serikat Penerbit Suratkabar Pusat dan Infomedia Nusantara.
[3] . Ibid.
[4] . Penerbit Tabloid Bola Mania, menceritakan kisah tabloidnya itu saat Lokakarya Manajemen Pers untuk Penerbit se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat di Makassar, 20 April 2007, diselenggarakan oleh SPS Pusat dan Dewan Pers.
[5]. Pemilik Tabloid Bola Mania juga merupakan penerbit Tabloid PULSA, yang memang hendak mengembangkan pasar non penerbitan berbasis telekomunikasi selular.
[6]. Trends in Newsrooms 2007, World Editors Forum, World Association of Newspapers.



[...] sebesar itu lebih tinggi dibanding pertumbuhan tahun 2005 – 2006 yang sebesar 23%. → Via situs ini [...]
Wow, detil sekali yah Mas “Lombok Ijo”.. ^^
Anyway, Mas ” Lombok Ijo” punya informasi nggak, majalah internasional apa (model2 Times, Globe Asia), yang pada tahun 2008 kemaren, oplah penjualannya paling tinggi di Indonesia??
Bisa minta infonya, penting ni.. ^^
Thanks before..
Salam kenal yaaa.. ^^