Para petinggi koran di bawah naungan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) ini, belakangan lagi bertabur gembira. Dalam deretan pembaca terbanyak hasil survei Nielsen Media Research, ia nangkring di posisi kelima untuk koran-koran di Jabodetabek dengan raihan 604 ribu pembaca, atau ranking enam tingkat nasional (9 kota). Sirkulasinya juga lumayan jago. Hasil audit lembaga Audit Beaureu of Circulation (ABC) dari Australia menunjukkan tiras terjual sebanyak 187 ribu eksemplar.
Capaian sebesar itu, tak mudah dibukukan. Butuh sekitar lima tahun untuk bisa memetik hasil lumayan. Nah, sore itu, Senin (4/2) saya janjian bertemu Dedy Pristiwanto, Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Warta Kota, di kantornya, bilangan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Dari mulutnya lancar mengalir berbagai informasi seputar kisah keberhasilan Warta Kota menjelma sebagai koran terdepan di segmen ”city newspaper” saat ini.
”Kami terbiasa bicara terbuka di sini, tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua karyawan tahu persis berapa tiras terjual Warta Kota saat ini. Bahkan sebelum diaudit ABC, setiap saat perkembangan oplah terjual koran ini selalu kami tempel di dinding-dinding kantor. Agar semua orang di kantor ini tahu perkembangan koran yang mereka bikin,” ujar Dedy deras bertutur.
Sebelum ketemu mantan Redaktur Harian Kompas yang kemudian di ”BKO”-kan ke Warta Kota itu, saya sempat bincang santai dengan kawan kuliah yang kerja di Warta Kota. Ika Chandra, begitu kawan karib saya itu. Berempat dengan dua kawan saya dari kantor –Tedjo dan Yamin—saya pun ngobrol soal perkembangan Warta Kota dengan Ika. ”Ntar kalau ketemu pak Dedy, dia juga akan bicara terbuka, apa adanya,” ujar Ika.
Lahir tahun 1999, pada awalnya, cerita Deddy, koran ini susah sekali berkembang. Ketika dirinya diminta Jakob Oetama masuk ke Warta Kota tahun 2001, ia menemui kenyataan tiras terjual koran ini tinggal 18 ribu eksemplar. Dua tahun pertama, ia habiskan untuk membenahi berbagai masalah internal. Dua tahun kedua, ia berbicara dengan seluruh karyawan –redaksi dan non redaksi—untuk merancang produk yang lebih berorientasi kepada pasar. Hingga, awal Februari 2005, Warta Kota pun berubah format dan konten.
”Koran ini memang kini sangat market oriented,” papar Ika kepada saya. ”Lho, apa salahnya dengan market oriented. Bukankah itu yang dicari setiap produk agar laku di pasar,”sahut saya menyanggah. Dalam bahasa Dedy, Warta Kota ingin mengerti betul kemauan pasar yang disapanya. ”Ada kekosongan pasar di segmen B dan A bawah yang kami masuki saat ini. Meski awalnya dulu kami bertempur di segmen kelas B dan C yang sudah penuh sesak dihuni sesama koran metropolitan,” aku Deddy lebih lanjut.
Iklan Warta Kota yang menggunakan ikon tukang ojeg tengah mengantar Deddy Mizwar sebagai penumpang, memang mengesankan koran ini dibidikkan bagi pembaca kelas C dan B. Meski kerap dibilang sebagai koran metropolitan, Dedy ingin menghilangkan kesan Warta Kota sebagai koran kriminal. ”Kami bukan yellow paper, lazimnya julukan yang melekat pada koran metropolitan,” katanya.
Yang menarik, dan membuat saya agak terperanjat, rupanya tak ada jatah koran gratis bagi seluruh karyawan yang berjumlah 127 orang. Semua harus beli, persisnya berlangganan di rumah masing-masing. Sebagai kompensasi, karyawan dapat subsidi berlangganan. Kesan awam, tampak manajemen Warta Kota pelit membagi koran promosi. Tapi lewat cara ini, aku Dedy, dirinya bisa memonitor, apakah ada wilayah yang menerima Warta Kota terlambat sampai di tangan pelanggan.
Disebutkan pula, jumlah retur juga relatif rendah sekitar tujuh persen. ”Jika ada retur yang melebihi angka itu, saya ajak manajer sirkulasi untuk berdebat di meja rapat, mencari tahu kenapa sampai jumlah retur bisa di atas ambang batas,” lanjut lelaki asal Surabaya yang juga ditugasi manajemen KKG untuk ikut membenahi Harian Surya agar bisa seperkasa dulu. Asal tahu saja, manajer sirkulasi koran ini rupanya adalah mantan ”pedagang rokok”. ”Dari awal saya bilang kepada dia, agar menjual Warta Kota sepertihalnya ketika dia menjual rokok,” terang Dedy membuka kiat sirkulasi korannya.
Maksudnya, jika orang bisa terbuai dan menjadi adiktif untuk merokok, maka orang juga bisa dibuat adiktif membaca koran. ”Sulit menggeser kebiasaan orang yang sudah terpola membaca koran tertentu. Itu yang ingin kami raih dari pembaca dan pembeli Warta Kota,” imbuh Dedy.
Jadilah kemudian, kesan sebagai koran enteng, tak bisa dihindarkan dari membaca Warta Kota saat ini. Bagi saya, membaca Warta Kota ibarat makan Indomie. Kenyang jelas tidak, meski bikin perut cukup terisi. Hanya sayang, karena mengejar sedikit sensasi, kadang akurasi dan kredibilitas Warta Kota perlu mendapat perhatian dari Dedy dan seluruh punggawa redaksinya.
Senin kemarin itu, saya sempat menemukan ketiadaan sumber dari wartawan koran ini ketika menulis dengan tajuk ”200 ribu kasus perceraian tiap tahun di Indonesia” pada edisi 4 Februari 2008. Ketika saya baca hingga akhir tulisan itu, tak ada sedikit keterangan pun yang menyebut sumber angka 200 ribu kasus itu. Hal-hal kecil macam ini, mungkin tak jadi soal serius bagi pembaca yang lain. Tapi, buat saya tentu mencemaskan. Walau, semoga tak mengurangi niat Warta Kota untuk terus bergerak maju dan meraih profit kian banyak. ”Wowwwwwwww, iklan kita makin luber, bo. Kadang kita orang redaksi saja harus ”mengalah” kalau ada iklan yang nyodok di injury time,” ucap Ika.
Toh, kata Dedy, ”Kami juga mesti batasi pada tingkat tertentu. Seperti iklan ucapan duka cita Pak Harto kemarin, jangan sampai terlalu banyak. Agar Warta Kota kelak tidak dipersepsi yang bukan-bukan dengan keluarga Soeharto,” pungkas Dedy berusaha bijak. ***



industri media ternyata hanya mampu melahirkan animo buruk di mata rakyat. Pers tidak lagi mampu mengawal Demokrasi. Kenaikan BBM adalah salah satu bukti ketidak benaran sistem yang memerintah.Dimana peran pers saat rakyat sudah menderita.