Harian INDONESIA, adalah satu dari segelintir koran harian berbahasa Mandarin di republik ini. Di Jakarta saja, hanya ada tiga koran yang eksis. Selain Harian Indonesia, adalah Harian Indonesia Shang Bao, yang kini dikelola oleh kelompok Bisnis Indonesia. Satu lagi, saya agak lupa. Minimnya jumlah penerbit koran berbahasa Mandarin setali tiga uang dengan penerbitan koran berbahasa Inggris. Relatif, hanya The Jakarta Post saja yang benar-benar kuat di pasar saat ini.
Momentum kehadiran koran-koran berbahasa Mandarin muncul seiring dengan arus perubahan dan reformasi politik sejak 1998 lalu. Sebelumnya, nyaris tak ada koran berbahasa Mandarin yang cukup menonjol di negeri ini. Selama kurun waktu itu pula, Harian Indonesia boleh jadi adalah satu-satunya koran Mandarin tertua -lahir pada 12 September 1966– yang masih bertahan hingga kini.
Siang itu (4/3), saya bersama dua kawan dari kantor, bertandang ke kantor Harian Indonesia yang terletak di kawasan Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat. Bersebelahan dengan kantor iklan Harian Pos Kota (di sebelah kirinya), dan kantor iklan Harian Berita Kota (di sebelah kanannya). Dari kawasan jantung bisnis ibukota inilah Harian Indonesia dikendalikan.
Kami ditemui oleh Desfandri, Manajer Iklan dan dua orang petinggi lainnya –Ibu Tang Ying Ying (Deputi Pemred) dan Ibu Pang Chin Yian (Deputi COO) yang akrab dipanggil Yen. Seperti biasa dalam visit saya ke para penerbit dan korporasi, saya dan kawan-kawan menyampaikan berbagai program kerja kantor saya kepada sohibul bait alias sang tuan rumah. Dari tiga program yang saya sampaikan –advokasi kebijakan industri media cetak, kampanye pembaca muda, serta pendidikan dan penelitian– rupanya program kampanye pembaca muda menarik perhatian Yen.
Ia lalu bercerita bagaimana kini semakin berkurangnya komunitas Tionghoa yang mampu berbahasa Mandarin dengan baik. Umumnya, generasi muda (anak-anak dan remaja) Tionghoa, sudah lupa dengan akar bahasa nenek moyang mereka, akibat puluhan tahun “dilarang” dipergunakan dalam dialek sehari-hari oleh penguasa masa lalu. Akibatnya, kini terjadilah kesenjangan penguasaan bahasa Mandarin yang kronis, antara generasi tua dan muda.
Satu hal lalu mereka coba kembangkan. Melakukan edukasi lewat sekolah-sekolah baik secara langsung maupun tidak. Secercah harapan memang menguak. Kini mata pelajaran bahasa Mandarin bahkan sudah cukup banyak dipraktikkan di sekolah-sekolah level dasar hingga menengah atas di berbagai kota besar. Ini mengingat kebutuhan ketrampilan Bahasa Mandarin bagi aktivitas bisnis, sosial, dan sehari-hari semakin hari kian meningkat.
Dengan populasi yang diperkirakan mencapai sekitar 10 juta orang, komunitas Tionghoa dikenal sebagai salah satu komunitas yang akan terus berkembang di negeri ini. Tren dan booming pertumbuhan ekonomi serta berbagai pencapaian tinggi dari China daratan, jelas mendorong perhatian pemerintah Indonesia menjadi lebih kuat lagi kepada komunitas Tionghoa di sini. Bahkan, Presiden SBY sendiri ketika menghadiri perayaan Imlek tahun ini, menegaskan agar diakhiri tindakan diskriminatif terhadap warga negara RI keturunan Tionghoa.
Kembali ke Harian Indonesia. Saya kira, pesan yang ingin dikatakan Yen adalah perlunya menggalang kampanye berbahasa Mandarin bagi kaum muda warga keturunan Tionghoa di Indonesia lebih gencar lagi. Buat saya, ini bisa sejajar dengan upaya mengampanyekan pula gemar membaca koran. Artinya, senyampang kaum muda keturunan Tionghoa ini didorong mempelajari kembali bahasa Mandarian, mereka juga bisa dirangsang untuk gemar membaca koran (berbahasa Mandarin) pula.
Klop sudah. Tapi, bagaimana caranya? Tentu saja ada banyak jalan. Bisa melalui guru dan sekolah bersangkutan sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan koran berbahasa Mandarin ini, agar materinya dapat dipergunakan sebagai “bahan ajar” mengenai bahasa Mandarin. Atau melalui stimulus dengan merancang aktivitas kompetitif antar pelajar dalam konteks bahasa Mandarin. Seperti lomba majalah dinding berbahasa Mandarin, dll.
Dalam benak saya, jika kelak model kampanye young readers yang sedang dilakukan The Jakarta Post (versi bahasa Inggris), serta kawan-kawan penerbit media cetak lain yang sudah berjalan (koran masuk sekolah/KMS) di 17 kota, ditambah Harian Indonesia (versi bahasa Mandarin), bisa terbilang sukses, saya berpikir akan lebih baik kalau dibikin semacam center-center di ketiga penerbit tersebut. The Jakarta Post, Harian Indonesia, dan Radar Lampung, misalnya. Sehingga siapa pun yang ingin mengambil teladan bisa menjadikan ketiga penerbit tersebut sebagai benchmark.
Halaman koran masuk sekolah milik Harian Radar Lampung, misalnya, tahun 2006 terpilih sebagai yang Terbaik dalam kontes isi dan lay-out KMS se-Indonesia yang diadakan kantor saya di Puncak.
Kembali ke Harian Indonesia, satu hal yang menarik perhatian, rupanya lay-out harian Indonesia tidak dilakukan di Jakarta, melainkan di Kuala Lumpur. Mengapa? Lantaran ada kerjasama antara Harian Indonesia dengan koran berbahasa Mandarin nomor satu di Malaysia, Sin Chew, sejak 1 Desember 2006. Sekadar Anda tahu, jaringan Sin Chew telah menyebar hingga Hongkong, Kanada (Toronto), dan AS (New York). Di kota-kota tersebut Sin Chew memiliki koran berbahasa Mandarin juga.
Sehingga selepas proses editing semua berita selesai, kawan-kawan di Harian Indonesia lalu mengirim naskah dan materi iklan ke Kuala Lumpur untuk di-lay out, selanjutnya dikirim balik malam itu juga jelang cetak dalam format pdf, untuk kemudian dicetak di Jakarta.
Sebuah kerjasama yang menarik, saya pikir. Dengan sinergi semacam itu, Harian Indonesia memang berharap akan ada benefit penetrasi merek koran itu di wilayah regional juga, selain memang di Indonesia. Di dalam negeri sendiri, persebaran Harian Indonesia menjangkau kawasan Jabodetabek (43%), Jawa Barat (14%), Jawa Timur (10%), Sumatera Utara (7%), Jawa Tengah (7%), Riau/Batam (5%), Sumatera Selatan (5%), Lampung (3%), Kalimantan (3%), Sulawesi (3%).
So, bagaimana Yen? Mumpung tingkat persaingan koran-koran berbahasa Mandarin di Indonesia belum begitu sengit, ada baiknya untuk melangkah lebih cepat dibanding para kompetitor. Bukankah begitu. ***



Good Blog…
boleh numpang tanya telf redaksi “Harian Indonesia” ? Ini koran ygn terbit dari jaman dulu kan ya? thanks.
Tolong tanya, nomor telp Harian Indonesia berapa ya ? Mau langganan bgm carannya ? Thanks a lot.
halo….
bisa minta no kontak dari harian indonesia?
lalu ketika berkunjung ke sana memakai bahasa indo atau mandarin?
terima kasih, soalnya saya mau penelitian skripsi tentang koran ini
tolong sekali yah
kalu mau pasang iklan bagaimana?
Untuk sekedar informasi mengenai koran mandarin yang disebutkan diatas masih ada 1 koran mandarin lainnya yaitu Harian Mandarin GuoJi, yang merupakan Jawa Pos Group. Koran Mandarin GuoJi adalah satu-satunya koran mandarin dengan sirkulasi nasional. Hal ini berhasil membuat GuoJi menjadi Koran Mandarin terbesar saat ini. Untuk penjelasan lebih detail mengenai Harian Mandarin GuoJi dapat langsung ke kantor GuoJi yang terletak di Jln Gunung Sahari X1 no 291, telp 021-6265566.
Sorry, boleh minta contact number untuk Harian Indonesia?
TQ sebelumnya