Setelah beberapa minggu menyimpan rasa penasaran, saya pun berkesempatan bertemu langsung Direktur Utama PT Berita Nusantara, penerbit Koran Jakarta (www.koran-jakarta.com), di kantornya, Jl. Wahid Hasyim No. 125 Jakarta Pusat, telp 021-3152550 (hunting) dan fak 021-3155106, Jumat (30/5), sekitar pukul 15.30 WIB. Ketika memposting tulisan mengenai koran ini sebelumnya, bertajuk “Koran Jakarta, milik siapa…?”, saya memang belum mendengar langsung penuturan penerbitnya mengenai seluk-beluk kehadiran koran anyar ini.
Seperti dugaan saya bahwa Koran Jakarta merupakan koran bisnis, rupanya melenceng. “Meskipun koran ini memiliki porsi pemberitaan yang cukup banyak tentang bisnis, Koran Jakarta adalah koran umum,” ujar Marthen Selamet Susanto, sang Direktur Utama. Soal lain menyangkut keterlibatan Gunawan Jusuf, big boss PT Makindo, Tbk, yang santer disebut-sebut berada di belakang koran ini. Kembali Selamet membantah. “Koran ini murni dimiliki beberapa wartawan. Kalau memang ada keterlibatan Gunawan Jusuf, nyatanya tidak ada satupun bukti legal kepemilikan saham dia di koran ini,” katanya mengelak.
Disiplin cek dan ricek, meski sudah bukan lagi resmi berprofesi sebagai wartawan, tetap saya usahakan dalam menulis apa pun, termasuk postingan di blog saya ini. Karena itu, pertemuan dengan Selamet hari Jumat pekan lalu itu menjadi penting bagi saya untuk menegaskan beberapa informasi yang masih “abu-abu” tadi.
Saya dan Selamet pun bertukar pikiran mengenai prospek bisnis koran di Jakarta maupun Indonesia secara luas. Dari data kantor saya, SPS Pusat per Desember 2007, penetrasi koran harian di Indonesia tiap hari baru sebanyak 7,217 juta eksemplar. Jika diproyeksikan dengan jumlah populasi kita yang sebanyak 230 juta jiwa, maka perbandingan satu eksemplar koran harian terhadap penduduk adalah 1:31. Masih jauh dari standar UNESCO yang menetapkan 1:10.
Menilik fakta itu, semestinya prospek penerbitan koran harian masih sangat besar di negeri ini. Hanya sayangnya, dua handicap besar kerap menghadang. Antara rendahnya minat baca dan keterbatasan daya beli masyarakat. Dua hal ini selalu mewarnai setiap diskursus mengenai industri media cetak di tanah air. Sayangnya, belum ada satu hasil riset –setahu saya– yang memberi pengabsahan terhadap asumsi-asumsi tersebut.
Karena itu, begitu banyak penerbit –koran, tabloid, dan majalah– yang datang dan pergi. Umumnya, mereka yang tidak dimodali dana memadai, hanya akan bertahan sebentar. Sementara yang memiliki kekuatan human capital dan modal fulus besar, akan mampu bertahan cukup panjang. Tapi, cukupkah itu, paduan modal fulus dan human yang besar, untuk menjamin media cetak bersangkutan akan bertahan lama di pasar? Jawab saya, belum tentu…!!!!!!!!!!!
Sudah banyak cerita tentang media cetak yang akhirnya terkapar di kanvas meski memiliki kedua modal itu. Sementara mereka yang bermodal “pas-pasan”, meski juga banyak yang tewas, tapi ada beberapa diantaranya yang mampu menyelip di antara para pemain lawas. Malah bisa meraup untung lumayan. Salah satu contoh yang kerap saya sebut-sebut, walau belum ideal banget, adalah Metro Riau. Meski hanya beroplah kurang dari 10 ribu eksemplar, Metro Riau mampu membuktikan efektivitasnya sebagai koran yang memiliki nilai bagi pembaca dan pemasang iklannya. Konon, menurut Pemimpin Perusahaan Metro Riau, Ahmad Rodhi, cuma dalam waktu tiga tahun, korannya sudah membukukan status break even point (BEP).
Yang membedakan Metro Riau dengan koran-koran lain di Pekanbaru, seperti Riau Pos, Riau Mandiri, dan Tribun Pekanbaru, adalah penempatan posisioningnya sebagai “koran komunitas”. Koran tersebut, memberi wadah bagi komunitas Tionghoa di Riau dengan cukup leluasa, dengan sajian bahasa Mandarin pula. Tak syak, jika koran ini, memiliki reputasi cukup kuat di kalangan masyarakat Tionghoa di Riau daratan.
Memilih sebuah positioning, adalah keharusan bagi setiap penerbit media cetak. Positioning yang seperti apa yang pas untuk sebuah penerbitan di suatu daerah tertentu? Prinsip umumnya, tentu saja positioning yang dibutuhkan oleh pembaca di daerah bersangkutan. Nah, bagaimana mengoperasionalkan konsep “dibutuhkan”? Itulah rahasia terbesar bagi setia media cetak untuk merengkuh sukses.
Koran Jakarta, bagaimana pun adalah sebuah bayi yang tengah berusaha untuk tumbuh. Bayi dengan positioning sebagai koran umum guna –meminjam istilah mereka– menjadi penyeimbang sekaligus memberikan pencerahan kepada publik. “Dengan posisi seperti itu, kami tidak harus berdiri di barisan arus utama atau mainstream atau di antara arus utama dan kaum periferal. Sekalipun mayoritas publik menyuarakan ‘’ya”, kami akan mengatakan ‘’tidak” seandainya suara orang kebanyakan itu bertentangan dengan hukum, etika, atau moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Begitu pula sebaliknya,” begitu tekad mereka sebagaimana dirilis dalam situs webnya.
Didasari pada konsepsi visi-misi dan positioning seperti itu, Selamet mengakui bahwa dari awal korannya hendak bersikap jujur. Termasuk –ini yang paling sulit– menyampaikan informasi tentang oplah yang sebenarnya. Dengan tanpa rasa takut dan malu, sore itu ia menunjukkan deretan lima digit oplah Koran Jakarta yang telah dicetak edisi Jumat pekan lalu kepada saya. Ia tak ingin terjebak pada ritme klaim oplah yang sudah lazim menjadi menu para penerbit media cetak selama ini. “Saya biasa sms-an dengan bagian produksi untuk menentukan jumlah oplah yang dicetak tiap hari,” ungkapnya.
Bermula dari “kejujuran” untuk mengungkap produknya kepada publik (pembaca dan pengiklan), Selamet, yang sebelumnya adalah Redaktur Pelaksana Harian Suara Pembaruan, ini berharap Koran Jakarta akan merajut sukses di masa-masa yang akan datang. ***



mas, saya mau tanya soal keberadaan koran jakarta.untuk daerah sukabumi, sudah punya wartawannya belom?saya berminat untuk bergabung dan membesarkan koran jakarta ini mas?
gak habis fikir kok koran jakarta bs mengusung slogan “kebenaran itu tak pernah memihak”. wong pimrednya aja cm seorang pengecut yg lari dr tanggungjawab.
Koran Jakarta tidak akan lama. kalah dengan koan SINDO. Udah buka Warteg aja jangan buka koran segala. apalagi Pimrednya BAAAAAAAAAANNCCCCIIIII
hihihi ada yg sirik sm pimrednya euyyyyyyyyyyy!
jgn bw2 masalah pribadi disini dong!
Selam++at hari Ulang tahun sobat ,de3mikian tegorv sapa seorang pansiunnan Satpam . Apa yang akan Sobat kerjakan di usiamu sekarang ? ,kalaupun itu seorang kakek tentu nimang cucu hal yang wajar . Tetapi ini tidak,diusia senja ini Instansi yang disebut Kepolisian harus siap dituntut reformasi diri dimana seharusnya tidalah mudah gumun atau kagettean bila meelihat sesuatu ataupun persoalan yang serumit apapun . Sebagi contoh kecil dikediri pihak polres Kediri melalui Kasat reskrim mengeluhkan permasalahan peningkatatn kejahatna terhadap anak / KDRT diwilayahnya . Tetapi yang lucunya Internet lah yang dijadikan kambing hitamnya . Ya penulis pikir ini komandan asal saja komentar . Pan ini perlu pembaca ketaui dari pengamatan penulis pelaku kebanyakan tidak kenal yang namanya net nettan . Namun entah bagaimana komentar yang kedua makin membingungkan masayarakat,melalui kanit nya . Dipicu pada takutnya Ibu Ibu melaporkan KDRT makin mempersulit pihak kepolisian bertindak ? Ya entah arah nya bagai mana penulis tidak mengerti tetapi paham harus bagaimana . Akan tetapi tak pantaslah Penulis membari pelajaran ke Bapak Polisi . Yang jelaSMARI ERUBAH BEBENAH Kedalam memintarkan diri .Selamt ualang tahun ” Nda ” semoga diusiamu senja makin dewasa . Olpeh Pon
Selam++at hari Ulang tahun sobat ,de3mikian tegorv sapa seorang pansiunnan Satpam . Apa yang akan Sobat kerjakan di usiamu sekarang ? ,kalaupun itu seorang kakek tentu nimang cucu hal yang wajar . Tetapi ini tidak,diusia senja ini Instansi yang disebut Kepolisian harus siap dituntut reformasi diri dimana seharusnya tidalah mudah gumun atau kagettean bila meelihat sesuatu ataupun persoalan yang serumit apapun . Sebagi contoh kecil dikediri pihak polres Kediri melalui Kasat reskrim mengeluhkan permasalahan peningkatan kejahatan terhadap anak / KDRT diwilayahnya . Tetapi yang lucunya Internet lah yang dijadikan kambing hitamnya . Ya penulis pikir ini komandan asal saja komentar . Pan ini perlu pembaca ketaui dari pengamatan penulis pelaku kebanyakan tidak kenal yang namanya net nettan . Namun entah bagaimana komentar yang kedua makin membingungkan masayarakat,melalui kanit nya . Dipicu pada takutnya Ibu Ibu melaporkan KDRT makin mempersulit pihak kepolisian bertindak ? Ya entah arah nya bagai mana penulis tidak mengerti tetapi paham harus bagaimana . Akan tetapi tak pantaslah Penulis membari pelajaran ke Bapak Polisi . Yang jelas MARI ERUBAH BEBENAH Kedalam memintarkan diri .Selamat ulang tahun ” Nda ” semoga diusiamu senja makin dewasa . Oleh: Pon