Bergaul sangat dekat dengan orang-orang public relations dari berbagai institusi (perusahaan swasta, lembaga negara dan departemen, pemerintah daerah, perusahaan BUMN) ternyata sungguh mengasyikkan. Selama tiga hari, 12 – 14 Juni 2008 lalu, kantor saya mengumpulkan 44 PR Officer dari 21 lembaga yang sangat bervariasi itu di Sangkan Hurip, Kab Kuningan, Jawa Barat, dalam kemasan program “Executive Course for PR: How to Handle Press Well“. Ini adalah program yang kesekian kalinya diselenggarakan kantor saya sejak tahun 2001.
Hanya saja yang mengejutkan saya, program kali ini mencatatkan rekor tersendiri. Pertama, merupakan program dengan peserta terbanyak sepanjang sejarah pernah kami adakan. Kedua, merupakan program dengan tingkah peserta yang paling seru, konyol, lucu, dan cair. Ketiga, pertama kali pula kami adakan di luar kota dengan menumpang KA menggunakan gerbong KA khusus wisata jurusan Gambir (Jakarta) – Cirebon, yang ditarik oleh rangkaian KA Argojati. Dan di atas gebong KA wisata itulah, sesi pertama disampaikan oleh Dahlan Iskan, Ketua Umum SPS Pusat.
Dahlan Iskan berbicara mengenai reformasi birokrasi dan kedewasaan pilar-pilar penopang bangunan republik ini –birokrasi, partai politik, pengusaha, pers, dan rakyat. Kesimpulan utama Dahlan adalah, dibanding elemen-elemen negara yang lain, birokrasi dan partai politik sampai saat ini masih memiliki skor paling rendah, setelah kita mengarungi masa pasca reformasi sejak 1998.
Rakyat mendapat skor kedewasaan tertinggi dengan nilai 7,5, mengalahkan pers yang skornya 7. Sementara birokrasi masih berkutat di angka 6. Sedangkan, yang paling parah, adalah partai politik yang baru mengancik nilai 5! Sungguh memprihatinkan, memang.
CEO Jawa Pos Grup itu sampai pada kesimpulan tersebut setelah melakukan pengamatan cukup intensif, serta berdialog dengan para tokoh pers, pengusaha, dan elit politik dalam kurun empat bulan terakhir. Bagaimana pun, skor birokrasi dan partai politik yang masih cukup rendah tingkat kedewasaannya, akan menghambat proses kemajuan dan kemakmuran bangsa ini. Meskipun rakyat, pengusaha, dan pers sudah lebih dewasa.
Karenanya, dibutuhkan upaya bersama seluruh elemen bangsa untuk membantu birokrasi dan partai politik meraih tingkat kedewasaan yang lebih matang secepat mungkin.
Sesampai Cirebon, saya dan para peserta program ini langsung menuju kantor Radar Cirebon untuk bersantap siang sembari melihat-lihat kantor koran terbesar di kawasan Cirebon ini. Seperti yang sudah saya duga, hampir semua peserta merasa surprised mendapati kenyataan hidangan makan siang yang tersaji semuanya adalah menu masakan khas Cirebon. Ada empal gentong, kemudian nasi jamblang, dan pecel khas Cirebon. Tak ada satu pun menu masakan internasional yang terpapar.
Keringat pun mengalir deras dari dahi sebagian peserta usai melahap makanan masing-masing. Rasa puas akibat lidah yang tak kuasa menanggung rasa pedas sambal empal gentong, maupun akibat kekenyangan, tampak menjalar dari air muka kawan-kawan PR ini. “Uaaaaaaahhhhhhhhh….! Aku kepedasan,” teriak salah satu teman. “Wah…. Tak usah ada negara ga apa-apa, yang penting bisa menikmati empal gentong,” celetuk Wahyu Muryadi, Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO yang ikut rombongan ini.
Selesai santap siang dan beramah-tamah dengan manajemen Radar Cirebon, kami langsung meluncur ke lokasi menginap, di hotel Grage Sangkan, Kuningan. Dua tahun silam, saya pernah bertandang ke hotel ini bersama kawan-kawan kantor atas fasilitasi dari teman-teman Radar Cirebon pula. Saya berada satu mobil menuju Grage Sangkan dengan Nana (GM Radar Kuningan), Eduard Depari (Manajer PR RGM Indonesia), dan Wahyu Muryadi. Sepanjang perjalanan dari Cirebon – Grage Sangkan, kami pun bercanda lepas. Kami berdiskusi soal kasus FPI dan aktivitas kehumasan yang dilakukan oleh para calon pemimpin bangsa, macam Soetrisno Bachir (Ketua Umum PAN).
Belum juga rasa penat hilang usai menempuh perjalanan 4 jam dari Jakarta peserta sudah harus bersiap mengikuti sesi II dari Wahyu Muryadi, mengenai Wartawan dan Cara Kerja Jurnalistik.
Mantan Kepala Protokol Istana Kepresidenan di masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, banyak bercerita mengenai persoalan keseharian wartawan dan manajemen pemberitaan. Alur sebuah berita hingga menjadi produk yang enak dibaca, juga menjadi bagian dari bahan presentasi Wahyu.
Malam hari, peserta kami ajak beramah-tamah dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan, Momon Rachmana. Menurut gossip yang beredar malam itu, konon Pak Sekda ini bakal mencalonkan diri sebagai Cabub pada pemilihan kepala daerah di Kab Kuningan bulan Oktober mendatang. Setiap peserta kemudian diminta oleh MC (yang cantik dan seksi dengan balutan gaun malam yang meninggalkan belahan panjang di betis indahnya) untuk saling mengenalkan diri masing-masing, diselingi dengan menyanyikan sebuah lagu yang mereka kenal dan sukai. Momon sendiri bercerita mengenai potensi alam dan SDM kabupaten Kuningan.
Di penghujung acara kenalan ini, saya ditodong oleh si teteh MC tadi untuk menyanyi. Sungguhhhhhhhh….!!! Menyanyi di depan umum adalah pekerjaan paling sulit bagi saya. Walau hasrat untuk bisa menyanyi sangat menggebu-gebu. Sampai di sini, saya masih bisa menghindar. Namun ketika giliran Kukuh Sanyoto, Direktur Eksekutif Newspaper in Education (NiE) Indonesia yang meminta saya, tak kuasa ajakan itu pun saya iyakan. Bersama dua kawan SPS Pusat yang lain –Tedjo dan Yamin– kami berempat mendendangkan lagu Cucakrowo dengan gaya yang berantakan…!!!!!!!!!
Hari kedua (13/6), sesi S Leo Batubara, Wakil Ketua Dewan Pers, dan Eduard Depari, tersaji hingga jelang salat Jumat. Leo memaparkan filosofi UU Pers, kode etik jurnalistik, dan peran Dewan Pers. Sejumlah kasus pemberitaan pers diangkat Leo. Sementara Eduard Depari menceritakan tentang pengalamannya berhadapan dengan media. Adalah kebetulan, perusahaannya saat ini tengah menghadapi kasus sengketa pemberitaan dengan Majalah TEMPO. Meskipun saat di Cirebon dan Kuningan Edu –sapaan akrab Eduard Depari– bersua dengan Wahyu, keduanya tak sedikit pun menyinggung kasus yang membuat kantor keduanya “berseteru”. Justru obrolan-obrolan ringan yang sedikit nyerempet “bahaya” yang mereka angkat. Sungguh indah melihat perilaku keduanya yang sangat demokratis itu.
Usai salat Jumat dan makan siang, saya ajak para peserta mengunjungi museum Linggarjati, lokasi perjanjian Renville tahun 1947. Hampir semua peserta belum pernah sekalipun mengunjungi Linggarjati. Padahal, nama ini sangat terkenal dalam buku-buku teks sejarah di sekolah.
Rute berikutnya adalah kawasan batik Trusmi di Plered, Kabupaten Cirebon. Di sinilah peserta kami ajak menikmati keindahan batik tradisional Cirebon. Sedemikian “murah” harga batik di sini, sejumlah kawan peserta tak ayal melakukan aksi borong besar-besaran. “Tak penting banget desainnya, yang penting harganya murah meriah,” celetuk seorang kawan dari Departemen Keuangan RI.
Acara belanja selalu menarik perhatian siapa pun. Terutama kaum hawa. Karena itu, batas waktu berbelanja yang saya berikan selama satu jam di Trusmi, akhirnya dilanggar dengan keras oleh mereka. Hehehehehehe….!!!!!!!! Destinasi terakhir belanja adalah kawasan pusat wisata kuliner di kota Kuningan. Di sinilah kami menuntaskan acara wisata dengan memborong tape khas Kuningan, Opak Bakar, dan Jeniper (jeruk nipis peras). Sebelum mengenal Jeniper, beberapa kawan peserta merasa penasaran dengan nama satu ini. Setelah diberitahu, barulah mereka sadar dan tertawa ngakak. Huahahahahahaa….”Kirain Jeni(f)er Lopez, si penyanyi seksi itu,” teriak kawan dari Perpustakaan Nasional.
Malam hari, sedianya acara kami program untuk berkunjung ke redaksi Radar Cirebon. Namun atas masukan sejumlah kawan peserta, kunjungan ke Radar Cirebon pun saya batalkan. Dan simulasi membuat press release akhirnya saya lakukan di ruang konferensi di hotel. Sebelum simulasi, ketika berwisata ke Linggarjati dan Batik Trusmi, Kukuh Sanyoto menyampaikan sejumlah kiat dalam menulis rilis dan menyelenggarakan konferensi pers.
Hasil rilis yang dibuat peserta –yang saya kelompokkan menjadi sembilan regu– kemudian menjadi bahan untuk konferensi pers keesokan harinya. Namun, sebelum simulasi penulisan rilis dimulai, sesi terakhir menghadirkan M Ridlo ‘Eisy, Ketua Harian SPS Pusat. Ia mengutarakan tentang Pedoman Hak Jawab dan Teknik Berhubungan dengan Pers.
Tepat pukul 23.15 WIB, seluruh rilis yang dibuat peserta berhasil terkumpul. Malam itu, saya tak segera beranjak tidur. Sembari menunggu jam tayang antara Perancis vs Belanda, saya mengajak beberapa kawan peserta –Retno (Perpustakaan Nasional), Sasi dan Heru (Depkeu), Tyas (Depkes), dan tiga teman dari RGMI Group (Tomi, Corry, dan Dwi), untuk menikmati suasana malam kota Kuningan. Kami pun meluncur ke Kuningan. Tapi tak ada lokasi menarik untuk sekadar melemaskan otot-otot di kota Kuningan. Saya lalu membawa mereka ke arah kawasan wisata Gronggong. Sebuah puncak tanjakan jalan antara Cirebon – Kuningan. Dari ketinggian kawasan ini, kami bisa melihat keindahan kota Cirebon di kala malam. Gerimis tak lama kemudian turun. Kami pun lalu bergegas kembali ke hotel.
Hari ketiga acara kami manfaatkan untuk simulasi membuat press conference. Sembilan regu secara bergiliran tampil ke depan, seolah-olah tengah melakukan press conference sungguhan. Sementara peserta lain di floor, saya minta menjadi penanggap. Ada-ada saja ulah para penanggap ini yang saling berperan sebagai “wartawan dadakan”. Ada yang pura-pura minta amplop atau “vitamin dan bensin”. Ada juga yang mencecar dengan isu-isu non kontekstual.
Praktis, selama tiga hari itu, kedekatan peserta dengan saya dan kawan-kawan selaku penyelenggara cukup lumayan terbangun. Saya amati sebagian dari mereka begitu mudah cair dan bergaul dengan sesama kawan yang lain. Sebagian lainnya, terlihat masih malu-malu, atau bahkan ada yang masih sangat kaku meskipun sebatas saling berbincang dengan sesama peserta.
Bertemu, ngobrol, gaul, dan berdiskusi dengan kawan-kawan PR semacam ini memang sangat menyenangkan. Guyonan dan canda khas mereka, begitu lepas terangkat dari pribadi-pribadi mereka yang sangat memesona. Saya banyak mendapat pelajaran dari kawan-kawan itu. ***



wah asyik tuh mas….
Mana bisa ngomentari tulisan penulis kawakan…
Kurangnya cuma kurang foto2nya aja, hehehe..
Oalah…. ternyata aku dah dilupain. Pasti kurang seru n kurang lengkap karena aku gak ikut.
Btw buat sesi how to handle management crisis for press and publics buat orang-orang PR dong… pembicaranya harus yg ok punya lho. OK sukses selalu buat pak Asmono.
Siip,, sukses dan terkabul…. kalau ada undangan per email dengan topik berbeda, kali2 bisa ikut ya……. tx,,,,