Pagi ini tadi, saya memperoleh sebuah tabloid gratis, yang saya peroleh bersamaan dengan kiriman Kompas langanan saya. Tabloid MONITOR Indonesia. Itulah nama tabloid baru yan
g saya maksudkan. Rupanya, hari ini merupakan nomor perdana tabloid yang berketebalan 24 halaman ini, dan dibandrol promosi Rp 1000.
Sekilas dilihat, cover tabloid ini boleh juga tampaknya. Menampilkan headline “Gaet Siti SBY Lepas JK”, tabloid yang diterbitkan oleh PT Ciria Putra Media, beralamat di Jl. Jatipadang Raya No. 50 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp (021) 7805848, Fax (021) 7805345, warna politik yang kental menyelimuti hampir seluruh sajian MONITOR Indonesia.
Kehadiran Tabloid MONITOR Indonesia (TMI), menjelang masa-masa pemilu seperti ini, mengingatkan saya dengan menjarmurnya penerbitan media cetak jelang Pemilu 1999 dan 2004 silam. Hanya saja, pada pemilu tahun ini, saya belum mendapati banyak penerbitan partisan anyar tersebut. TMI, mungkin saja, tidak dirancang untuk menyongsong pemilu 2009. Tapi, warna politik yang sarat diusung media ini, tentu mengundang tafsir sendiri.
Secara faktual, saat ini saya lihat memang tak ada satu pun tabloid berita politik yang masih sangat eksis di pasar media cetak. Ini berbeda dengan masa-masa 5 – 7 tahun silam. Dulu ada Tabloid DETAK, SIMPONI, ADIL, dll, yang sama-sama pengusung aliran tabloid berita politik. Sayang, rata-rata mereka harus angkat kaki dari dunia persilatan media cetak.
Saya termasuk orang yang tidak yakin dengan masa depan tabloid dan majalah berita politik, kecuali mereka yang sudah eksis. Kalau mau jujur, di pasaran majalah berita politik, paling hanya TEMPO dan GATRA yang masih mampu bertahan dan berkembang baik. Selain itu, tanda tanya besar bagi saya. Sedangkan di ranah tabloid, seperti saya bilang di atas, tak ada satu pun yang kini bisa disebut mewakili eksistensi tabloid berita politik secara mapan.
Nah, kehadiran TMI, boleh jadi, dirancang untuk mengisi kekosongan pasar tersebut, senyampang menjelang pemilu, di saat kuantitas isu dan konten politik nasional tengah melimpah ruah. Mampukah TMI kelak benar-benar meraih pasar yang memadai di segmen pasar tabloid berita dan politik? Saya enggan meramal. Tapi, jelas tidaK mudah bagi TMI untuk bisa menggenggam pasar di segmennya ini. Ia harus bersaing dengan majalah berita mingguan, maupun dengan koran harian, yang saya kira kini semakin banyak memberikan ruang bagi pemberitaan politik. Mengikuti tren isu-isu politik sekarang yang kian menghangat. Mulai dari kasus penangkapan anggota DPR oleh KPK, gonjang-ganjing di Kejaksaan Agung, kisah demo anti BBM, dll.
Pada sisi lain, sejatinya, saya melihat masyarakat pembaca semakin banyak disodori sumber-sumber alternatif menyangkut isu-isu politik. Dan, dalam banyak hal, informasi politik dari media cetak, acapkali sekadar “dibaca” sebagai gosip atau selebrasi aktivisme politik saja. Karena di tingkat yang lebih lanjut, publik pembaca sudah menerima informasi alternatif yang tak kurang tajamnya. Walaupun, itu sama-sama sebatas gosip politik.
Masyarakat pembaca kini berbeda dengan 10 tahun lampau. Publik kini lebih kaya dengan persepsi mereka masing-masing. Ini berkat membanjirnya informasi yang bisa mereka akses jauh lebih mudah ketimbang dulu. Dengan demikian, rumors akan menjadi konsumsi yang menarik ketimbang mereka membaca lebih banyak dari media cetak.
Itu semua jelas tantangan besar bagi para pengelola media cetak, tak cuma bagi Tabloid MONITOR Indonesia. Kuncinya saya kira, bagaimana TMI bisa tampil beda, inovatif, serta mampu menyuplai kebutuhan informasi masyarakat pembaca yang belum didapatkan dari media-media yang lain. Jika ini tak bisa dipenuhi, mungkin tinggal bersiap mengikuti nasib buruk penerbitan tabloid-tabloid berita politik pendahulunya. ***



salam.
ok tulisannya mas.
nih mas asmono wikan alumnus fisip undip n pemred majalah kampus opini ya…sya pernah ikut pelatihan penerbitan kampus tingkat dasar (ppktd) di undip th 1994 dan mas ketua panitianya.
oh ya, saya arief farihan, dulu di majalah pro justitia fak. hukum unsoed purwokerto, ya yuniornya mas tulus abadi, shaleh rudianto, kang undang sudrajat, kalo dari iain ada kang ecep suwardani yasa dsb.
kebetulan saya eks wartawan tabloid adil kantor jakarta hingga akhir hayat tabloid tersebut…dan apa yang ditulis mas asmono diatas benar. dalam situasi sekarang sangat berat bagi media cetak apalagi yang berhaluan berita politik untuk tetap eksis.
adil, dalam usianya yang ke 70, setelah berubah menjadi tabloid dari asalnya majalah yang dikelola salahseorang pengurus muhammadiyah di solo, mbah rono (h. surono wiroharjono), pada akhir 2002 harus tumbang. saya kini bekerja di harian priangan (grup pikiran rakyat bandung) di tasikmalaya.
mas asmono sekarang masih di media cetak? kontak-kontak via email di atas atau 08164663677
Cuma meluruskan saja. Yang benar Tabloid Indonesia Monitor. Sepengetahuan saya sebagian awaknya digawangi wartawan jebolan Rakyat Merdeka. Plus jurnalis muda yang punya cita-cita Indonesia kembali ke akal sehat. Salam
semakin ramai saja dunia media cetak di negeri ini….
ups… kirain ‘Monitor’-nya Arswendo…
kami atas nama redaksi situs imediacyber.dot com mendoakan untuk tabloid Monitor Indonesia tetap exsis selalu didunia media cetak.
tabloid ini mengingatkan beberapa tabloid yang hadir menjelang pemilu dan pilpres tahun 1999, sayangnya mereka terlihat jelas sekali memihak kubu tertentu…semoga monitor ini hanya harganya saja yang mirip dengan tabloid2 terdahulu tapi isinya lebih baik…karena seperti tagline sebuah surat kabar…”kebenaran itu tidak memihak”
anindita menulis => …. sebagian awaknya digawangi wartawan jebolan Rakyat Merdeka. Plus jurnalis muda yang punya cita-cita Indonesia kembali ke akal sehat.
apa iya? justru akal sehat saya yang mengamatii hiruk pikuk politik negeri ini mengatakan sebaliknya. terlalu memihak.
apa itu kode buntut ?