Jauh-jauh hari sejak sebelum menginjakkan kaki di “Bumi Nyiur Melambai”, saya sudah diolok-olok beberapa kawan, agar tak lupa menikmati tiga pesona Manado –Bubur, Bibir, dan Bunaken. Jamak memang diketahui, “ikon 3B” yang entah siapa penciptanya dan mulai kapan dipopulerkan itu, selalu menempel pada kota Manado. Malahan, kini, masih ditambah dengan satu “B” lagi, Boulevard (sebuah kawasan bisnis baru yang membentang di bibir pantai Manado, tempat berkumpulnya sejumlah mal, hotel, dan ratusan bangunan ruko baru) Jl Piere Tendean, sehingga menjadi “4B”.
Sekira pk. 10.15 WITA, Rabu (9/7) lalu, saya a
khirnya bisa merasakan aura dan hawa kota yang mencanangkan diri hendak menjadi “Kota Tujuan Wisata Dunia” pada tahun 2010. Jujur, saya lumayan surprised mendapati kenyataan bahwa Sam Ratulangi airport ternyata lebih dari cukup representatif untuk dikembangkan sebagai international airport. Infrastruktur bandara ini menurut saya terbilang sangat memadai. Saya pun turun ke terminal kedatangan dari dalam pesawat, menggunakan garbarata (belalai gajah). Tidak turun lewat tangga pesawat. Ada tiga garbarata di bandara ini.
Runway bandara juga terbilang panjang. Menurut informasi yang saya dengar dari kawan-kawan di Manado, panjang runway Sam Ratulangi sekitar 3.000 meter. Di sisi timur runway, terdapat jalur bagi pesawat yang hendak parkir di apron. Sehingga setelah pesawat landing dari arah utara runway dan berhenti di bagian selatan dekat ujung runway, tidak perlu balik kanan lagi menuju apron. Tapi, langsung berbelok ke kiri lalu ke kiri lagi untuk selanjutnya menuju apron yang terletak sekitar satu km dari ujung selatan runway.
Model bandara di dalam negeri yang seperti ini, hanya saya jumpai di Soekarno Hatta, Djuanda, dan Ngurah Rai. Kelak akan diikuti oleh Hasanuddin Makassar jika pembangunan terminal baru bandara itu telah selesai dikerjakan.
Kenyamanan berikutnya juga saya jumpai di ruang bagasi. Meski hanya terdapat 2 instalasi ban berjalan bagasi, namun karena trafik kedatangan penumpang di bandara ini belum sepadat di Polonia, Batam, Makassar, Jogjakarta, dan kota-kota besar lainnya, menunggu bagasi di Sam Ratulangi menjadi sebuah pekerjaan yang sangat santai. Tidak perlu berdesakan dan berjubelan dengan penumpang lainnya.
Saya memang termasuk orang yang sangat memerhatikan fasilitas sebuah bandara. Karena itu, saya merasa sangat happy setiap mendapati situasi nyaman di sebuah bandara domestik.
Singkat cerita, usai mengurus bagasi, saya bersama sejumlah kawan dari Jakarta yang hendak mengadakan lokakarya Manajemen Pers bagi penerbit lokal se Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (Sulutenggo) di Manado itu, lalu beranjak menuju hotel Quality, lokasi kami berkegiatan hingga Jumat (11/7). Dua kawan yang saya kenal melalui aktivitas chatting di internet –Judy dan Tina—sudah menunggu di pintu kedatangan.
Hotel Quality, yang berlokasi di Jl Piere Tendean Boulevard Manado, hanya berjarak sekitar 20 menit dari bandara Sam Ratulangi. Sepanjang perjalanan menuju hotel, saya tidak menjumpai kemacetan lalu-lintas. Dengan penduduk sebanyak 500 ribu jiwa, Manado yang kira-kira seluas Bandar Lampung dan topografinya juga nyaris sama dengan ibukota propinsi Lampung itu, boleh dibilang sebuah kota sedang bagi saya. Tidak terlalu sibuk, juga tidak sepi. Bahkan, varian pemandangan di kota ini sungguh mengagumkan. Ada kawasan pegunungan, gunung berapi, danau, pantai yang panjang dan indah, kebun bunga, serta taman laut yang sangat memesona. Itu semua dapat dijangkau dalam radius 30 – 60 menit dari kota Manado. Yang terentang dari Tondano, Tomohon, hingga Bunaken.
So, kitorang benar-benar kagum dengan begitu banyak pesona dan potensi Manado. Kesan pertama yang memesona ini, jelas membuat saya lebih bergairah bekerja selama berada di Manado.
***
Diikuti oleh 30 peserta, sebagaimana biasa paket kegiatan serupa yang diadakan kantor saya, SPS Pusat, bekerjasama dengan Dewan Pers, lokakarya kali ini menggelar tema-tema seputar manajemen redaksi, sirkulasi, iklan, keuangan, dan SDM. Saya mendapat giliran pertama membentangkan tinjauan industri media cetak 2008. Sedangkan tema saya yang berikutnya, ”Membangun Pembaca Muda”, saya sampaikan pada sesi malam hari.
Kondisi fisik saya sebenarnya kurang fit. Saya terserang flu dan batuk sejak Sabtu (5/7) hingga saat berada di Manado masih juga belum reda. Suara saya pun tidak bisa maksimal, akibat rasa gatal yang cukup mengganggu di tenggorokan. Maka pada sesi malam hari, nyaris saya merasa ”kehabisan suara”. Namun berkat semangat dari pesona Manado yang saya dapat sejak mendarat di Sam Ratulangi, saya tetap fight untuk memotivasi dan membakar semangat peserta agar sejak kini memerhatikan para pelajar, anak-anak muda, sebagai pembaca masa depan penerbitan mereka masing-masing.
Lumayan berhasil saya memancing keingintahuan mereka. Usai sesi malam tersebut selesai saya sampaikan, sejumlah kawan dari kelompok Manado Post –Harian Manado Post, Posko, dan Tribun Sulut—mendekat ke saya dan kami berdiskusi lebih lanjut tentang strategi pengembangan pembaca muda yang saya sampaikan itu. Intinya, saya meminta mereka membuka rubrik khusus tentang anak-anak sekolah, dengan melibatkan siswa secara aktif sebagai jurnalis dan fotografer halaman khusus itu. Disamping itu, saya juga ingatkan kepada kawan-kawan itu, agar menggelar off print program secara reguler, bersinergi dengan halaman-halaman tentang anak-anak sekolah tadi.
Dalam terminologi kantor saya, program ini dikenal dengan istilah Koran Masuk Sekolah (KMS). Tujuan utamanya memperkenalkan koran kepada lingkungan anak-anak sekolah (SD, SMP, dan SMA), agar kelak mereka menjadi pembaca setia koran kita. Dan, itu hanya bisa dilakukan dengan investasi sejak sekarang…!!! Tak bisa ditunda-tunda. Masuk ke sekolah, libatkan siswa untuk mereportase, menulis, memotret, sekaligus memasarkannya…!!!
Jika itu digabung dengan program off print, sungguh akan menjadi sebuah kolaborasi yang indah. ”Sampai di sini,” kata saya kepada kawan-kawan itu, ”silakan dihitung potensi pasar anak-anak sekolah atau sekolah yang ada di hadapan Anda. Ada berapa ribu sekolah di Sulut, Sulteng, dan Gorontalo. Itu tidak akan habis dimakan oleh 2 – 4 koran harian saja. Sebuah pasar yang menjanjikan,” ujar saya membakar inspirasi teman-teman tersebut.
Sejak akhir 2005, di setiap kota saya mengadakan program ini, saya sengaja menempatkan diri sebagai pembakar semangat kawan-kawan penerbit ini. Agar mereka lebih kreatif, inovatif, dan efektif dalam bekerja. Terutama dalam mengembangkan pasar-pasar baru bagi media masing-masing.
***
Tibalah kini saat saya bersantai. Sayang, flu yang belum kunjung reda, rupanya merembet ke tubuh saya yang mengakibatkan demam di sekujur badan. Keesokan harinya, Kamis (10/7), sejak pagi kepala saya sudah terasa pening. Agenda hari itu sejatinya akan saya gunakan untuk jalan-jalan pada siang harinya. Apalagi dua kawan saya yang salah satunya, Judy, adalah pengelola biro perjalanan wisata Pandu Ekspres yang berkantor di Jalan Sam Ratulangi, sudah menawarkan diri untuk menjadi tour guide yang baik. Namun, seharian itu hingga jelang sore, saya lebih memilih tinggal di hotel. Sembari mengawasi sesi-sesi lokakarya berikutnya, saya juga dua kali naik ke kamar untuk beristirahat, mencoba menghilangkan rasa pening di kepala.
Baru sore harinya, saya mengajak dua kawan saya itu untuk jalan-jalan mencari aksesoris khas Manado guna dibawa ke Jakarta. Kamis siang itu, sebenarnya seorang kawan saya yang kebetulan suaminya bekerja sebagai konsultan di PMI Daerah Sulawesi Utara, mengundang saya untuk santap siang di RM Ria Rio, Kalasey, merayakan ultah sang suaminya tercinta. Sayang, saya tidak bisa memenuhi undangan tersebut karena pening di kepala yang belum juga hilang.
Malam harinya, undangan makan malam tak bisa lagi saya tampik, dari JW Dimpudus, Manajer Humas PLN Wilayah Sulutenggo. Ia, bersama dua stafnya di kantor, bung Leo dan Adi, rupanya membawa saya ke RM Ria Rio, di Kalasey. Wah, coba kalau siang harinya saya memenuhi undangan Ana, kawan saya yang suaminya ultah di tempat tersebut… Bisa dua kali donk saya ke Ria Rio. Dimpudus adalah kolega saya, yang saya kenal waktu beliau ikut program executive course for PR tentang How to Handle Press Well, yang diselenggarakan kantor saya di Kuningan, Jawa Barat, 12 – 14 Juni 2008 lalu. Lihat postingan saya sebelumnya di blog ini berjudul: “Jika Para PR Berkoempoel”.
***
Sepanjang setengah hari pada hari ketiga lokakarya, Jumat (12/7), saya memfokuskan diri untuk kembali mengamati suasana lokakarya yang ketika itu menghadirkan Diah Purnomowati dari TEMPO sebagai pembicara mengenai topik rekrutmen serta kepemimpinan dan membangun team work.
Dengan jumlah penduduk sekira 500 ribu jiwa, di Manado terdapat delapan koran harian. Tiga diantaranya adalah milik Manado Post Grup, tiga berikutnya milik Komentar Grup, dan dua non kelompok. Satu lagi sebuah koran harian, Media Sulut, akan terbit –menurut rencana— Senin (14/7) ini. Manado Post, yang merupakan anak usaha Jawa Pos, sampai kini masih menjadi market leader di Sulawesi Utara. Ia juga telah mengembangkan sayap ke Gorontalo dengan menerbitkan Gorontalo Post dan Tribun Gorontalo. Selain itu juga Tribun Luwuk di Luwuk, Sulawesi Tengah serta Tribun Tuntunan di Kabupaten Kotamobagu yang akan terbit Senin (14/7).
Sekilas melihat tipografi brand Tribun Sulut, mengingatkan saya dengan branding Tribun dari kelompok Kompas Gramedia. Nyaris sama, kalau tidak bisa dibilang benar-benar sama. Ketika bertandang ke kantor Manado Post pada Jumat (11/7) malam, saya sempat menanyakan itu. Apakah logo itu tidak sama dan sudah dipatenkan? Sekilas, kawan-kawan dari Manado Post menjawab bahwa kehadiran Tribun Sulut sejak kira-kira dua tahun silam, adalah langkah antisipasi jika Kompas Gramedia hendak masuk Manado dan memakai nama mereka “Tribun Sulut” juga.
Selama di Manado kemarin, saya mendengar berita santer, bahwa Kompas Grup memang akan segera masuk ke Manado. Bahkan kemungkinan besar akan diikuti SINDO yang membuka edisi Sulut. Saya sendiri belum mengecek kebenaran berita ini ke Herman Darmo, bos Indopersda Primamedia, unit usaha Kompas Gramedia Grup yang khusus mengelola koran-koran daerah di bawah payung KKG.
Manado Post kerap dipersepsikan berseteru dengan Harian Komentar. Kelompok Harian Komentar sendiri yang berformat junior broadsheet enam kolom sama dengan ukuran tabloid, juga mengelola Harian Metro dan Harian Football. Khusus harian Football, boleh dibilang merupakan satu-satunya koran sepakbola di Indonesia selain Harian Topskor di Jakarta. Sungguh berani juga kawan-kawan dari kelompok Harian Komentar menerbitkan Football, dengan formasi iklan yang sangat minim.
Koran-koran di Sulut dan Gorontalo, tampaknya akan mencatatkan sebagai koran harian umum termahal di Indonesia. Manado Post, Gorontalo Post, dan Komentar, sama-sama dibandrol eceran Rp 4.000/eks. Sementara Metro dan Football Rp 3.000/eks, serta Tribun Sulut dan Posko dijual Rp 2.000/eks.
Kompetisi pasar koran di Manado lumayan ketat menurut kawan-kawan di kota ini. Harga iklan bisa banting-bantingan. Bahkan, konon, banyak iklan kolom dengan harga cuma Rp 250 ribu, dipasang selama satu bulan oleh beberapa koran. Manado Post, misalnya, menyiasati persaingan ini dengan menerbitkan halaman khusus untuk menservis pengiklan potensial di setiap hari Sabtu. Khusus edisi Sabtu ini, halaman cover dijual ke pengisi, dengan nilai sekitar Rp 2 juta, atau setara dengan membeli 500 eksemplar koran.
Sementara kawan-kawan dari Komentar, menyiasati persaingan dengan mengecilkan format. Selain tampil beda, juga untuk menghemat volume pemakaian kertas. Dugaan saya, jika diakumulati, total oplah beredar koran-koran di Manado tak lebih dari sekitar 25 ribu eksemplar. Karena jika sampai terdapat 50 ribu eksemplar saja, maka itu sudah sesuai dengan stadar Unesco, yang mensyaratkan 1 eksemplar koran maksimal dibaca oleh 10 penduduk, sebagai indikator tingginya pembaca di sebuah daerah dan negara. Saya menguji ini dengan pertanyaan, apakah di Manado sudah tercapai angka tersebut kepada kawan-kawan peserta lokakarya, ternyata tidak ada satu pun yang berani mengiyakan. Itulah sebabnya, saya berani mengestimasi angka sekitar 25 ribu eksemplar.
Selain mereka, dalam lokakarya kali ini juga hadir beberapa perwakilan harian dari Palu, Sulawesi Tengah. Antara lain Harian Nuansa Post, Harian Mercusuar, dan Harian Suara Sulteng. Sebagian dari kawan-kawan ini, sudah pernah saya kenal tatkala Juli 2006, saya bertandang ke Palu untuk melantik pengurus SPS Cabang Sulawesi Tengah.
Sayang, perwakilan dari Radar Sulteng, yang konon kini berseteru keras dengan Nuansa Post dalam arti yang riil, tidak hadir pada kegiatan ini. Dibanding Manado, tentu pasar koran dan iklan di Palu dan Gorontalo masih relatif sangat kecil. Sungguh lebih berat beban mereka. Ujungnya, oplah harian di dua kota itu, nyaris tak ada yang melewati 10 ribu eksemplar per hari. Jika bisa terbit sekitar 6.000 – 8.000 eksemplar per hari saja sudah lumayan hebat.
Sungguh pun begitu, saya selalu mengajak mereka untuk tidak berputus asa. Pasar yang masih kecil itu, terutama pengiklan lokal dan pembaca baru, harus terus diedukasi. Penerbit yang mesti mengambil inisiatif, bukannya menunggu orang lain. Dari edukasi pasar inilah, kelak diharapkan terjadi hubungan tradisional yang lebih kuat antara penerbit dengan pengiklan dan pembaca. Pada ujungnya, peningkatan pasar pun bisa dicapai.
***
Empat hari di Manado jelas masih kurang. Dengan waktu sesingkat itu dan kegiatan yang sangat padat, saya baru bisa menikmati ”2B” –bubur dan boulevard. Mencicipi Tinutuan, bubur khas Manado di Jalan Wakeke –pusat kawasan bubur Manado—baru bisa saya lakukan Sabtu (12/7) pagi, sebelum kembali ke Jakarta siang harinya. Toh, meski tidak maksimal, kesempatan mengunjungi danau Tondano dan berputar-putar di Tomohon, sedikit mengobati kekecewaan saya yang tidak sempat menyeberang ke Bunaken.
Situasi kehidupan di Manado yang tenang, nyaris tiada konflik horizontal, namun menyimpan potensi ekonomi dan budaya yang besar, tampaknya sejajar dengan ritme kehidupan pers di sini. Semua ”terkendali” dengan baik. Untuk menyebut istilah ”kontrol terbatas” otoritas lokal terhadap pasar media cetak di Sulut. Dan ini jamak saya jumpai di banyak daerah di seluruh republik ini. Begitu cukup besar ketergantungan para penerbit lokal terhadap sumber-sumber pendapatan dari pemerintah daerah (iklan, advertorial, langganan koran partai besar, dll).
Semoga itu tidak mengurangi daya dan sikap kritis kawan-kawan penerbit media cetak di Manado, Gorontalo, maupun Palu, terhadap setiap gejala dan potensi kesewenang-wenangan penguasa lokal. Pesona Manado memang benar-benar legit dan mak nyuuuusssss….!!!!!!!!!!!! ***




Gak salah ni Mas mono, Tullisannya Informatif, Detail dan Tentunya Menarik. tapi kemana2, ato mungkin mang pengen kemana2, menurtku kurang fokus, tap mungkin mang dibkin nggak fokus. atau memang sepeti itu karakter fitur? sepertinya mang musti mikir buat nyari inti tulisanmu mas
hehehe….
kelupaan, tapi aku suka…. keren, pengen bisa nulis kayak gitu… (jalan2nya juga maksudku)
terima kasih mas asm, sedikit banyak pengetahuan saya jadi bertambah.tulisannya bagus edukatif dan menjadi pencerahan buat saya
mas mono tulisan benar2 mak yuuuss d ! apalg saat kau promosikan ttg manado . kita2 jd bangga loh..
kelompok jawa pos dengan koran berlabel tribun-tribunnya cerminan praktik bisnis tak beretika, kurang ajar, ga sopan. yang kreatif, bung..
duh gua bangga bangaeeet kalo torang pe manado dipromosikan seperti itu abis ..orang lebih dulu berpikir negatif ttg orng manado tak usah ya..
Aku bangga jadi orang manado…….
I LUV MANADO
Aku berencana hijrah ke Manado…
kebetulan seneng jurnalistik…
ada info ga, kira2 bisa gabung di koran or tabloid apa ya?