Meski puasa, tetap berkarya. Hehehehe… Kayak semangat 45 gitu dech yang saya lakukan bersama kawan-kawan di kantor ketika menerima permintaan teman-teman Perpustakaan Nasional RI, guna melakukan pelatihan menulis dan PR bagi sebagian staf mereka. Jadilah kemudian, 17 orang dari berbagai bagian di Perpustakaan Nasional, kami ajak ke Cipayung – Bogor, untuk sebuah workshop bertajuk “How to develop writing skills and understanding the media” selama tiga hari, 18 – 20 September 2008.
Tiga pembicara dari kalangan media kami hadirkan. Mereka adalah Linda Tangdialla (Redaktur Pelaksana Bisnis Indonesia), Wahyu Muryadi (Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO), dan Budiono Darsono (Pemimpin Redaksi Detikcom). Saya sendiri ikut berbicara, memberikan share kepada kawan-kawan Perpusnas ini, mengenai Peta Industri Pers Nasional serta UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Adapun Linda, membawakan materi mengenai Menulis Opini dan Menulis Berita Pendek. Sementara Wahyu Muryadi, saya minta membawakan presentasi tentang Teknik Wawancara dan Teknik Menulis Features. Sedangkan Budiono Darsono, menampilkan materi tentang Jurnalisme Online dan Menulis Rilis di Media Online.
Buat peserta yang selama ini jarang menggeluti aktivitas menulis, materi semacam ini tampaknya cukup memberi wawasan sekaligus pengetahuan praktis bagi upaya mereka untuk belajar menulis lebih baik. Bagaimana pun, saya meyakini, setiap orang yang bekerja di bidang apa pun, perlu mengetahui teknik-teknik menulis dan kemudian bisa menulis. Menulis apa saja. Laporan, artikel, proposal, bahkan cuma surat sekalipun, tetap membutuhkan teknik-teknik tertentu agar tulisannya menarik dan bisa mendapat perhatian dari orang yang membacanya.
Saya sendiri sadar betul, makanya dalam setiap kali mengoreksi naskah surat kawan-kawan di kantor, maupun saat saya menulis sendiri untuk kepentingan tertentu –entah itu laporan atau proposal– saya usahakan betul agar tulisan saya bisa menggambarkan sebuah cerita yang menarik tentang obyek yang tengah saya tulis.
Kembali ke acara workshop. Sebagian besar peserta workshop Perpusnas ini bukanlah para staf humas (PR). Hanya ada dua orang yang sehari-hari mengeloka aktivitas PR di Perpusnas. Selebihnya mereka adalah staf yang umumnya tidak banyak bersentuhan langsung dengan dunia menulis artikel, opini, maupun feature. Namun keseriusan kawan-kawan itu dalam belajar, nampak dari dialog yang berlangsung dengan semua pembicara. Kami juga menerapkan metode workshop sepenuhnya, lewat praktik menulis berita pendek, press release, dan menulis feature, seusai para pembicara menyampaikan materi mereka.
Di akhir kegiatan, beberapa dari kawan tersebut mengusulkan kepada saya agar dibuat semacam pelatihan serupa atau khusus tentang PR dan pemahaman terhadap media bagi bos dan pejabat mereka di lingkungan eselon II. Wooooooooowwww….!!! Sungguh ide yang menarik. Saya dan teman-teman di kantor sebenarnya tengah menyiapkan konsep pelatihan PR bagi non PR khusus tingkat eksekutif (pejabat eselon II dan direktur di tingkat perusahaan). Tujuannya agar para pengambil keputusan itu juga ikut memahami dinamika media dan kehumasan. Ujungnya, jika di tingkat staf sudah semakin pintar dalam mengelola program kehumasan, serta pimpinannya juga aware, tentu akan bisa tercapai kesepahaman di masing-masing institusi, tentang tugas-tugas kehumasan yang harus dikelola secara maksimal.
Di tengah-tengah lokakarya, saya menerima telpon dari seorang kolega di Departemen Keuangan. Ia mengabarkan bahwa hendak meminta tolong untuk mengadakan pelatihan tentang jurnalisme online bagi staf humas di lingkungan Depkeu. Lagi-lagi wooooooowwwwwwww…!!!!!!!!!! Sebuah rezeki tentu saja, pantang tuk ditolak. Saya ceritakan kepadanya jika saat itu saya sedang berada di tengah-tengah program pelatihan jurnalisme bagi teman-teman Perpusnas. Di seberang telpon, ia tampak sumringah. “Kalau begitu, saya bicarakan segera dengan kepala biro, nanti setelah Lebaran kita adakan,” kata si empu suara tersebut.
“Siiiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaappp, bu…!” balas saya singkat penuh arti. ***



Ah, sungguh menarik, teknik penulisan yang baik dan benar tentang berita ataupun bukan berita (seperti fiksi), itu memang memerlukan pelatihan. Tidak dapat dipungkiri, ternyata adanya ‘bakat’ menulis atau berceritera, itu adalah salah satu modal awal. Akan tetapi.. menurut Mas Wahyu Muryadi (Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO) sebagai salah satu nara sumber pelatihan jurnalistik bagi karyawan Perpusnas mengatakan, “Itu dapat dilatih! Karena sebenarnya, walaupun seseorang punya bakat, apabila tidak dilatih dan ditekuni dengan serius, ia tidak akan bisa menghasilkan suatu karya tulis yang baik”.
Aha! Saya bagaikan mendapatkan kepercayaan diri yang cukup tinggi mendengar pernyataan Mas yang punya pengalaman segudang dalam mewawancarai orang-orang penting di Indonesia maupun di Asean tersebut, terlebih lagi didorong oleh Mas Asmono Wikan, ehm..adiknya Faris Rustam Munaf, (eh, hanya mirip..tepi banget-banget miripnya, lho) untuk mau berlatih secara rutin dan dianjurkan pula agar kita memiliki blog atau diari online.
O..o.. kami para peserta diklat jurnalistik tersebut (terutama saya, ehm..) menjadi tambah semangat. Ah, mudah-mudahan saya mendapatkan talenta menulis ketika saya berlatih menulis..(ha..ha..walaupun bukan diperoleh ketika lahir?), tapi “Tentunya harus diiringi dengan banyak membaca buku tentang materi yang ingin dituangkan”, kata Mas Budiono Darsono (Pemimpin Redaksi Detikcom). Ya..setuju! Terimakasih atas semua sarannya, Bismillah..dan mohon doanya.
I love you forever, Opong..
pesan dong but opong, bgm khbrnya skrg ?