Senin (29/9) lalu, saya agak terkejut menemukan “sedikit” formasi anyar dalam manajemen harian Kedaulatan Rakyat (KR). Saat itu, saya yang kebetulan sudah berada di kampung halaman, Wonosari, Gunungkidul, membuka-buka KR yang saya beli dari pengasong di jalanan. Di bagian masthead –sengaja saya buka duluan– saya menemukan Fajar Kusumawardhani kini menjadi Pemimpin Umum KR. Rupanya, pasca wafatnya Sumadi M Wonohito, tanggal 29 Agustus 2008 lalu, kini nakhkoda KR antara lain dikomandani oleh Dhani, panggilan karibnya. Ia juga masih merangkap sebagai Direktur Pemasaran.
Hari ini (9/10), saya luangkan waktu menelepon Dhani, mengucapkan selamat atas promosi yang diterimanya, sekaligus mengucapkan selamat ulang tahun ke-63 KR yang jatuh pada tanggal 27 September silam. Sementara jabatan direktur utama kini dipegang oleh Budi Setyawan, yang sebelumnya adalah direktur produksi. Sepengetahuan saya, Budi Setyawan masih terbilang kakak dari Dhani.
KR akhirnya kini berada dalam posisi dinasti ketiga keluarga Wonohito, yang bersama H Samawi, adalah dua pendekar pendiri KR, pada 27 September 1945. Mirip-mirip dengan Suara Merdeka, yang kini juga tengah bertransisi menuju pewaris tahta ketiga.
Setiap zaman akan melahirkan generasi (dan pemimpinnya) sendiri. Begitulah kata-kata dari orang bijak. Kepemimpinan duo Dhani dan Budi, saya kira juga akan menemukan gayanya sendiri. Meski dalam obrolan via telepon hari ini, Dhani mengatakan kalau dirinya akan berhati-hati dalam mengemudikan KR. “Meskipun kami masih terbilang muda, kami tak ingin melakukan sebuah perubahan (drastis) pada KR. Karena belum tentu hasilnya akan sebaik yang sudah kami lakukan sekarang,” katanya tegas tanpa mengesankan bahwa dirinya anti perubahan.
Ucapan Dhani yang terkesan hati-hati, sejatinya adalah sebuah sikap bijak. Ia tak ingin di saat masih muda mengendalikan KR ini, lantas hendak berbuat yang terlalu progresif. Perubahan memang perlu. Tapi yang lebih perlu lagi, adalah bagaimana perubahan itu bisa menjawab kebutuhan perusahaan agar terus bisa berkembang pesat di pasar. Alih-alih berkembang pesat, kalo perubahan tidak dilakukan secara matang dan tepat, justru akan mendorong ke jurang kebangkrutan. Sudah banyak contoh itu terjadi.
Gerbong perubahan manajemen KR memang tidak sampai menimbulkan sas-sus yang kelewat horor. Meski sempat muncul gosip bahwa KR akan dijual ke Bakrie dan lain-lain pasca wafatnya pak Madi. Semua akhirnya kini terjawab tuntas. KR di era Dhani dan Budi akan mencoba meniti jalan yang semestinya harus mereka tempuh, untuk tetap eksis di industri persuratkabaran nasional.
Karena itu, saya sangat gembira jika KR pun terus melaju dalam biduk perahu industri ini. Selamat buat mbak Dhani dan mas Budi. Selamat juga buat mas Octo, yang tetap mengendalikan jajaran redaksi KR. Sukses selalu buat keluarga besar KR. ***



KR emg manteb euy, gak nyesel langganan KR…