Dalam waktu hanya sepekan, saya dua kali menginjakkan kaki di bumi Borneo. Masing-masing di Banjarmasin (12 – 13/10) dan Pontianak (15 – 16/10). Saya datang ke Banjarmasin untuk dua urusan sekaligus. Pertama, menghadiri pesta pernikahan putri dari Gusti Rusdi Rusli, Pemimpin Umum harian Banjarmasin Post, yang juga merupakan Anggota Dewan Pertimbangan SPS Pusat, serta untuk mendistribusikan undangan lomba debat dan menulis artikel tentang APBN tk SMA wilayah Banjarmasin dan sekitarnya.
Sementara di Pontianak, saya bersama tiga pengurus SPS Pusat yang lain, hadir untuk menjadi pembicara pada lokakarya manajemen pers bagi penerbit media cetak se-Kalimantan Barat, hasil kerjasama kantor saya dengan Dewan Pers. Kunjungan saya ke Pontianak kali ini adalah untuk pertama kalinya. Karena itu, sejak awal sebenarnya saya sudah sangat bersemangat untuk bersiap-siap seandainya ada waktu cukup guna melancong sebentar ke kota Singkawang, sebuah kota yang dikenal dengan komunitas masyarakat China yang hampir mendominasi populasi daerah itu. Di kota ini pula, sebutan “amoy” sangat populer, untuk menunjuk seorang wanita keturunan Tionghoa yang masih melajang.
Sayang, waktu saya ternyata sangat mepet di Pontianak, karenanya saya pun urung ke Singkawang, meski sudah ditunggu seorang kenalan di sana. Lain kali saya berjanji untuk berusaha menyempatkan diri mendatangi kota itu jika ada acara di Pontianak.
Sekilas mengamati dan membandingkan dua kota ini –Banjarmasin dan Pontianak– saya berkesimpulan jika Banjarmasin masih relatif lebih ramai kotanya dibanding Pontianak. Penduduk dua kota ini hampir sama jumlahnya, sekitar 500-an ribu jiwa. Hanya saja, secara geografi, kota Pontianak yang dibelah oleh dua sungai besar –sungai Kapuas dan Landak– rasanya lebih luas ketimbang Banjarmasin.
Sebagaimana tipikal kota-kota lain di bumi Borneo, dari kedua kota itu masih jauh untuk menjangkau kota-kota daerah kabupaten lain di masing-masing propinsi. Kota terdekat Banjarmasin yang bisa ditempuh dalam radius 2 – 3 jam hanyalah Banjarbaru dan Martapura. Sementara di Pontianak, kota terdekat dengan jarak tempuh yang sama hanyalah Mempawah dan Singkawang. Selebihnya, dari kedua kota itu membutuhkan waktu minimal lima jam dan lebih untuk menjangkau kota-kota kabupaten lain.
Secara rata-rata pula, di luar Banjarmasin dan Pontianak, tiap kota kabupaten paling banter dihuni oleh 200 ribu jiwa. Selebihnya, penduduk di propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat, menyebar secara merata. Karenanya, skala pertumbuhan ekonomi kota-kota kabupaten di kedua propinsi ini terbilang sangat lambat. Itulah sebabnya mengapa koran-koran “divisi dua” alias koran-koran di tingkat kabupaten, masih sangat sulit hidup dan tumbuh di kedua propinsi itu, kecuali di ibukota propinsi.
Di Banjarmasin, saya amati ada tiga sampai empat koran harian yang eksis. Mereka adalah Banjarmasin Post, Metro Banjar, Radar Banjar, Mata Banua, dan Barito Post. Belakangan ini, santer terdengar di Banjarmasin akan segera terbit koran baru bernama Sinar Kalimantan. Sebagai koran tertua dan terbesar di Kalimantan Selatan, Banjarmasin Post telah beranak pinak. Antara lain menelorkan Metro Banjar dan Serambi Ummah. Sedangkan di Pontianak, selain penguasa pasar Pontianak Post yang juga sudah beranak pinak antara lain lewat Kapuas Post, kini hadir Tribun Pontianak (milik Kompas Gramedia Grup), juga Borneo Tribune. Selebihnya di kedua kota itu muncul puluhan surat kabar mingguan dan bulanan. Sebuah majalah –Kalimantan Review– menyempil di tengah persaingan koran dan mingguan di Pontianak.
Kemunculan Tribun Pontianak sejak Agustus 2008 lalu dengan bandrol eceran Rp 1000/eks sampai 31 Des mendatang, memang memicu persaingan head to head dengan Pontianak Post, sebuah koran yang cikal-bakalnya terbit sejak 1972, sebelum diambil-alih grup Jawa Pos pada tahun 1990. Tribun Pontianak, juga merupakan anak bungsu dari genre koran-koran daerah milik Kelompok Kompas Gramedia. Sebelumnya, KKG meluncurkan Tribun Pekanbaru di kota Pekanbaru untuk menandai persaingan baru dengan kelompok Riau Post di kota itu.
Sejauh ini, legiun Tribun di daerah-daerah anyar yang dibuka KKG dengan bandrol Rp 1.000/eks, awalnya sempat menciutkan nyali para petinggi Jawa Pos Grup di daerah-daerah bersangkutan. Namun lambat laun, pasar tampaknya menemukan keseimbangannya kembali. Sulit memang diterima akal sehat, sebuah koran sekualitas Tribun Pekanbaru dan kini Tribun Pontianak dengan tebal 24 halaman dijual semurah itu. Apalagi dengan konten yang tidak buruk. Ini memang sebuah aktivitas promosi. Hanya, sampai kapan akan bertahan?
Rupanya, petinggi KKG pun tidak terlalu yakin dengan langsung bertempur di level kualitas produk, sehingga sampai-sampai harus bermain di level harga semurah itu, yang secara psikologis diharapkan akan mampu menarik pembeli koran eceran segmentasi metropolitan (yellow paper).
Dalam sebuah persaingan semacam ini, tentu sah-sah saja mengadu pelbagai strategi sepanjang koridor etika bisnis tetap dipegang teguh oleh para pemain di industri koran. Seorang pengemudi taksi yang mengantarkan saya dari bandara Supadio Pontianak ke hotel Kapuas, menyebut Tribun Pontianak sebagai koran “minimalis”. Istilah ini pernah saya dengar dari seorang kawan bagian iklan di Tribun Timur, koran milik KKG di Makassar beberapa waktu silam.
Ya. Padat dan serba ringkas informasi yang disampaikan. Itulah barangkali “strategi” KKG dalam mengemas koran-koran genre “tribun” mereka di daerah-daerah. Kawasan Borneo yang “adem-ayem” dalam konstelasi industri koran, kini akan semakin bergolak dengan tensi persaingan makin tajam antara KKG dengan Jawa Pos Grup. Cuma di Palangkaraya saja KKG yang belum memiliki wakil di bumi Borneo ini.
Kompetisi antar penerbit koran, sejatinya sebuah persaingan “semu”. Karena kompetisi sesungguhnya justru adalah melawan kenaikan harga kertas dan bahan-bahan baku percetakan lain yang belakangan semakin menguat. Setiap kali nilai tukar dollar AS menguat terhadap rupiah, saat itu juga koreksi atas harga bahan-bahan baku koran akan terjadi.
Dengan begitu, terik mentari di lintas khatulistiwa Pontianak maupun bumi seribu sungai Banjarmasin, mungkin akan mendapat pesaing baru dari “panasnya” persaingan koran-koran di kedua kota itu pada hari-hari ke depan. Wilayah Borneo pun kini bersiap meradang menyaksikan dinamika industri koran di kawasan tersebut. ***



mas…. bs minta situsnya tribun pontianak gk…? cz dr td kotak tatik gak ketemu situsnya….