Feeds:
Posts
Comments

Tren positif bisnis koran

Di tengah bermacam pesimisme terhadap bisnis koran di seluruh dunia, sebuah kabar apik meluncur dari Gothenberg, Swedia, lewat arena World Association of Newspapers Congres awal Juni lalu. Sejumlah fakta positif terpapar pada forum tahunan para penerbit koran dari seluruh dunia itu, yang diungkapkan oleh Tribuana Said (Komisaris Utama Harian Waspada) dan Titus Titot (Litbang Harian Kompas), pada seminar Oleh-oleh dari Kongres WAN dan Proyeksi Iklan Media Cetak Semester II 2008, yang digelar kantor saya, Selasa (12/8) di Jakarta Media Center. Sirkulasi koran di seluruh dunia dilaporakan tumbuh 2,57 persen satu tahun ke belakang. Bahkan dalam kurun lima tahun terakhir, sirkulasi koran mondial merangsek ke angka 9,39 persen. Pendapatan iklan juga merangkak ke angka 0,86 persen, untuk menggenapi pertumbuhan lima tahun terakhir yang sebesar 12,84 persen.

Yang tak kalah mengkilap, koran-koran gratis sirkulasinya merangkak tumbuh 3,65 persen satu tahun ini, sementara selama lima tahun belakangan, bergerak 14,3 persen. Lebih menggiurkan lagi, pertumbuhan koran-koran online yang mencapai 20 persen setahun ini, atau tumbuh 100 persen kurun lima tahun belakangan.

Kongres WAN kali ini, mematok tema “Newspaper as a multimedia is a growth business”, sebuah tema yang menjanjikan optimisme para penerbit koran di seantero bumi ini tentang masa depan bisnis industri media cetak. Masa depan bisnis koran (baca: media cetak), pada akhirnya menuju fase multimedia business. Ada konvergensi dan sinergi antara versi cetak dengan versi mobile, penyiaran, dan online.

Continue Reading »

Petisi Borneo

Melanjutkan serial workshop tentang Etika dan Independensi Pers dalam Pemberitaan Pemilu 2009 bekerjasama dengan Friedrich Ebert Stiftung (FES), kantor saya kembali menggelar program se

Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini, tengah menyampaikan presentasinya.

Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini, tengah menyampaikan presentasinya.

rupa di Balikpapan, 5 – 7 Agustus lalu. Tiga puluh perwakilan redaktur dari penerbit media cetak se-wilayah Kalimantan minus Kalimantan Barat, saya undang pada acara tersebut. Dua pembicara dari Jakarta saya hadirkan –Nur Hidayat Sardini (Ketua Badan Pengawas Pemilu) dan Wahyu Muryadi (Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO). Plus dua pembicara lokal –M Ramly (Anggota KPU Balikpapan) dan Ghufron (Dosen Komunikasi Universitas Mulawarman).

Awalnya, program di Balikpapan ini saya rancang hanya untuk kawan-kawan penerbit suratkabar harian saja. Namun karena kuota 30 penerbit koran harian tidak memenuhi, maka penerbit non harian (tabloid dan suratkabar mingguan) pun saya undang. Sebagian kecil dari mereka, saya pernah bersua di Banjarmasin bulan April silam, tatkala kantor saya menghelat lokakarya manajemen pers bagi penerbit lokal se-Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Continue Reading »

Senin (28/7) pagi itu saya tak begitu berminat mengikuti acara pembukaan Kongres XXII PWI yang berlangsung di kantor Gubernuran Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Saya lebih memilih menunggu di hotel, dengan memanfaatkan waktu untuk berinternet ria di lobby. Hari itu, merupakan hari yang spesial bagi saya, karena saya genap memasuki usia 37 tahun. Lepas subuh, sebuah sms dari isteri saya masuk ke ponsel Sony Ericsson kesayangan saya: “Selamat ulang tahun ya sayang….” Sebenarnya, jujur, saya berharap di waktu tengah malam, saat pergantian tanggal 27 ke 28 Juli, sms dari isteri saya sudah masuk. Tapi, ya sudahlah… Tak penting datang kiriman sms terlambat.

Saat tengah asyik browsing di lobby, beberapa sms dan pesan via chat via YM dari kawan-kawan bermunculan, seperti dari Wawan Soewandono, Amien Trirahayu, dan FR Susanti. Jika Wawan tahu dari Tagged, maka Santi tahu dari Friendster. Wah… “Thanks so much, my friends.. God bless U…!!!”

Lepas waktu makan siang, rombongan peserta kongres kembali berdatangan dari kantor Gubernuran NAD. Siang itu, di hotel Hermes Palace, akan berlangsung dialog dengan Menneg BUMN Sofjan Djalil, Menteri Agama Maftuh Basyuni, dan Kabulog Mustafa Abubakar. Usai dialog sesi I tersebut, bung Bob Iskandar dan bung Djoko Saksono, mengambil waktu sebentar dari panitia, guna melelang buku Tarman Azzam bertajuk “Tarman Azzam: Bangkit Indonesiaku” yang saya tulis dan disunting oleh bung Djoko.

Meski tak sukses banget, hasil lelang cukup lumayan, dengan komitmen donasi dari Menneg BUMN sebesar Rp 15 juta, Kabulog Rp 10 juta, dan Ishadi SK (Dirut Trans TV) Rp 10 juta. Hasil lelang itu akan digunakan untuk menutupi kekurangan biaya produksi buku dan selebihnya disumbangkan bagi kepengurusan PWI pasca Kongres XXII ini.

http://asmono28.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce-212/plugins/wordpress/img/trans.gif Continue Reading »

Organisasi wartawan terbesar di republik ini –Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)— pada tanggal 28 – 29 Juli lalu menyelenggarakan Kongres XXII di Banda Aceh. Subyek paling krusial dari pesta demokrasi organisasi yang lahir pada 9 Februari 1946 itu, tak lain adalah pemilihan pengurus anyar, khususnya ketua umum. Ketua Umum PWI Pusat 2003 – 2008, Tarman Azzam, tak mungkin lagi bisa dipilih, pasalnya ia sudah menjabat dua periode berturut-turut sejak 1998 ketika terpilih pertama kali pada Kongres XX di Semarang. Dan berlanjut pada hasil Kongres XXI di Palangkaraya, Oktober 2003.

Saya hadir di tengah-tengah Kongres PWI ini dalam kapasitas sebagai penulis buku tentang Tarman Azzam (TA) yang bertajuk “Tarman Azzam: Bangkit Indonesiaku”. Selain itu, saya juga hendak mengamati jalannya suksesi kepemimpinan di tubuh organisasi ini. Apakah PWI akan dipimpin oleh figur muda yang progresif, inovatif, dan kreatif?

Mulanya, saya hendak mengikuti rombongan pengurus PWI Pusat yang naik Hercules dari Halim Perdanakusumah. Namun karena kesulitan mendapat tempat duduk, saya pun akhirnya berangkat dengan Lion Air. Itu pun saya mendapat harga tiket paling mahal, kelas “Y”. Tak apalah, yang penting saya tidak melewatkan momentum penting ini. Apalagi ada agenda soft launching buku TA yang akan diikuti dengan lelang buku tersebut. Seluruh hasil lelang –yang merupakan ide pribadi saya kepada TA— setelah dikurangi biaya produksi akan disumbangkan untuk mengisi kas kepengurusan PWI Pusat periode 2008 – 2013.

Continue Reading »

Petisi Palembang

Peserta workshop SPS - FES di Palembang

Siapa yang tidak menginginkan kampanye dan Pemilu 2009 berlangsung damai dan demokratis? Pasti kita semua berharap kedamaian dan suasana demokratis muncul pada pesta demokrasi terbesar bagi republik tercinta ini tahun depan. Masa kampanye yang panjang, sekitar sembilan bulan, mulai 12 Juli 2008 hingga 5 April 2009, tentu akan memunculkan dinamika politik yang sangat berwarna. Terutama pada masa kampanye.

Bayangkan ada 34 partai politik yang akan “bertarung” merebut simpati rakyat, agar wakil-wakil mereka bisa lolos duduk di kursi empuk gedung DPR RI Senayan, maupun di ruang-ruang nyaman DPRD I dan DPRD II se-Indonesia…! Seluruh sumber daya –ekonomi, sosial, dan budaya– pasti akan dikerahkan ribuan calon legislatif tersebut lewat kendaraan partai politik masing-masing. Untunglah, pada Pemilu 2009, fase kampanye yang panjang mendukung bagi terciptanya ruang-ruang kampanye yang lebih terkendali, yakni melalui media massa.

Media massa, termasuk media cetak, harus diakui akan memperoleh benefit yang besar pada proses hajatan politik ini. UU No. 10/2008 tentang Pemilu maupun Peraturan KPU No. 19/2008, memberikan ruang sedemikian besar bagi para peserta pemilu –parpol dan caleg– untuk memanfaatkan media massa bagi aktivitas kampanye mereka. Tentu saja dengan sejumlah catatan normatif, bahwa kampanye bersangkutan tidak merugikan orang lain (pesaing) serta publik calon konstituen mereka. Kampanye melalui media massa yang dilakukan para peserta pemilu itu, terbagi dalam dua domain besar –pemberitaan dan iklan.

Dari perkiraan kasar, dana kampanye iklan para peserta Pemilu 2009 diperkirakan akan mencapai lebih dari Rp 1 triliun. Pada kampanye Pemilu 2004, belanja iklan parpol mencapai sekitar Rp 300 miliar, dengan PDI Perjuangan mencatatkan pengeluaran paling besar, diikuti Partai Golkar, dan parpol-parpol yang lain. Dana sebesar itu tentu juga sangat menggiurkan bagi para penerbit media cetak se-Indonesia. Paling tidak, saya memperkirakan sekitar 30 persen atau ekuivalen dengan Rp 300-an miliar, dana kampanye Pemilu 2009 akan tersedot pada ruang-ruang iklan di media cetak.

Continue Reading »

Siapa lelaki yang tak mencintai wanita??? Pasti jawabnya tak ada satu pun pria yang tak suka wanita, apalagi wanita cantik dan seksi. Tapi, bagaimana dengan pasar majalah dan tabloid wanita? Seberapa “cantik dan seksikah” mereka, sehingga masih dicintai pasarnya yang notabene kaum perempuan? Jawabnya pun pasti dan tegas: masih sangat seksi dan cantik. Tak ayal, pasar majalah dan tabloid wanita tetap jadi sasaran “pria-pria “investor baru.

Sungguh pun demikian, secara umum persaingan pasar majalah dan tabloid wanita di Jakarta (untuk menyebut Indonesia, karena hampir semua pemain majalah dan tabloid wanita ternama berdomisili di Jakarta), dipandang semakin mengeras saja. Pemain baru terus bermunculan. Sementara jumlah pembaca menurut riset Nielsen Media Research, terbilang menurun dan stagnan. Dibanding koran harian, pembaca dan tiras majalah dan tabloid lebih kecil.

Data kantor saya (SPS Pusat), per Juni 2008 menunjukkan, jumlah oplah beredar majalah sebanyak enam juta eksemplar, sementara tabloid empat juta eksemplar. Adapun oplah koran harian sebesar tujuh juta eksemplar. Nielsen juga menyebutkan, pertumbuhan pendapatan iklan majalah dan tabloid tahun 2007 tidak sebesar koran harian. Jika koran harian menikmati pertumbuhan iklan 31 persen, maka majalah dan tabloid “cuma” 10 persen.

Continue Reading »

Pesona (bibir) Manado

Persaingan media di Sulutenggo

Jauh-jauh hari sejak sebelum menginjakkan kaki di “Bumi Nyiur Melambai”, saya sudah diolok-olok beberapa kawan, agar tak lupa menikmati tiga pesona Manado –Bubur, Bibir, dan Bunaken. Jamak memang diketahui, “ikon 3B” yang entah siapa penciptanya dan mulai kapan dipopulerkan itu, selalu menempel pada kota Manado. Malahan, kini, masih ditambah dengan satu “B” lagi, Boulevard (sebuah kawasan bisnis baru yang membentang di bibir pantai Manado, tempat berkumpulnya sejumlah mal, hotel, dan ratusan bangunan ruko baru) Jl Piere Tendean, sehingga menjadi “4B”.

Sekira pk. 10.15 WITA, Rabu (9/7) lalu, saya akhirnya bisa merasakan aura dan hawa kota yang mencanangkan diri hendak menjadi “Kota Tujuan Wisata Dunia” pada tahun 2010. Jujur, saya lumayan surprised mendapati kenyataan bahwa Sam Ratulangi airport ternyata lebih dari cukup representatif untuk dikembangkan sebagai international airport. Infrastruktur bandara ini menurut saya terbilang sangat memadai. Saya pun turun ke terminal kedatangan dari dalam pesawat, menggunakan garbarata (belalai gajah). Tidak turun lewat tangga pesawat. Ada tiga garbarata di bandara ini.

Runway bandara juga terbilang panjang. Menurut informasi yang saya dengar dari kawan-kawan di Manado, panjang runway Sam Ratulangi sekitar 3.000 meter. Di sisi timur runway, terdapat jalur bagi pesawat yang hendak parkir di apron. Sehingga setelah pesawat landing dari arah utara runway dan berhenti di bagian selatan dekat ujung runway, tidak perlu balik kanan lagi menuju apron. Tapi, langsung berbelok ke kiri lalu ke kiri lagi untuk selanjutnya menuju apron yang terletak sekitar satu km dari ujung selatan runway.

Continue Reading »

Pagi ini tadi, saya memperoleh sebuah tabloid gratis, yang saya peroleh bersamaan dengan kiriman Kompas langanan saya. Tabloid MONITOR Indonesia. Itulah nama tabloid baru yang saya maksudkan. Rupanya, hari ini merupakan nomor perdana tabloid yang berketebalan 24 halaman ini, dan dibandrol promosi Rp 1000.

Sekilas dilihat, cover tabloid ini boleh juga tampaknya. Menampilkan headline “Gaet Siti SBY Lepas JK”, tabloid yang diterbitkan oleh PT Ciria Putra Media, beralamat di Jl. Jatipadang Raya No. 50 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp (021) 7805848, Fax (021) 7805345, warna politik yang kental menyelimuti hampir seluruh sajian MONITOR Indonesia.

Kehadiran Tabloid MONITOR Indonesia (TMI), menjelang masa-masa pemilu seperti ini, mengingatkan saya dengan menjarmurnya penerbitan  media cetak jelang Pemilu 1999 dan 2004 silam. Hanya saja, pada pemilu tahun ini, saya belum mendapati banyak penerbitan partisan anyar tersebut. TMI, mungkin saja, tidak dirancang untuk menyongsong pemilu 2009. Tapi, warna politik yang sarat diusung media ini, tentu mengundang tafsir sendiri.

Continue Reading »

Majalah Pelajar

Banyak orang menduga, bila pelajar atau anak-anak remaja merupakan pasar yang menjanjikan. Begitu pula bagi para penerbit media cetak. Benarkah anggapan demikian? Bukankah pelajar masih merupakan segmen yang sangat labil, karena tak memiliki daya beli yang mandiri, alias masih menadah tangan pada orang tuanya?

Ditilik dari eksistensi penerbitan segmen remaja, sebenarnya tak banyak yang masih eksis. Bisa dihitung dengan jari saja. Sebutlah misalnya Kawanku, Hai, Cosmogirl, dan Aneka Yess!. Sementara khusus bagi remaja muslim, misalnya, terdapat Annida. Pukul rata, populasi majalah bagi pelajar, khususnya SMP dan SMA, sangat-sangat minim kalau mau dibandingkan dengan populasi demografi pelajar di seluruh Indonesia.

Jika demikian, maka menerbitkan media cetak khusus untuk pelajar, adalah sebuah peluang yang menjanjikan potensi keuntungan besar pula? Ehhhhmmm…., menurut saya tidak seeksak begitu kalkulasinya. Acapkali orang menghitung potensi bisnis di sebuah segmen media cetak dengan sangat optimistik, namun setelah digeluti, justru rasa pahit yang ditelannya. Alias menanggung kerugian, lantaran salah menghitung business plan yang hendak dijalani.

Itulah sebabnya, bersiap dengan “stamina” alias dana yang memadai, selalu menjadi modal dasar bagi setiap upaya menerbitkan media cetak di negeri ini. Tak terkecuali pada segmen pelajar.

Continue Reading »

Adakah sebuah metodelogi atau instrumen yang bisa dengan relatif tepat dimanfaatkan untuk mengukur sebuah nilai pada media cetak yang disebut “mencerdaskan bangsa”? Saya sendiri tidak tahu. Namun, yang paling dekat tentu saja adalah lewat sebuah forum curah pendapat atau diskusi terfokus para stakeholders pers itu sendiri. Jamak diketahui, jika dalam UU No. 40/1999 tentang Pers, dikenal ada empat fungsi pers –fungsi informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Dalam konteks fungsi informasi dan pendidikan itulah embel-embel “mencerdaskan bangsa” patut disematkan kepada media cetak.

Pada masa awal-awal reformasi hingga kira-kira dua tahun silam, begitu banyak pandangan kritis terhadap media, khususnya media cetak, yang bermuara kepada: Pers Indonesia telah kebablasan. Saya ingat sebuah joke kecil dari (alm) Mahtum Mastoem, mantan Ketua Harian SPS Pusat, yang selalu mengajukan pertanyaan: “Kebablasan atau Mbablas?” Jika “kebablasan” maka artinya berupa sebuah ketidaksengajaan. Namun jika “Mbablas”, itu identik dengan perbuatan yang disengaja. Begitu selalu beliau berargumentasi terhadap suara-suara minor dari orang-orang non pers terhadap pers.

Lalu kini, sengaja atau tidak sengaja apa? Umumnya, berbagai pendapat yang berkembang waktu itu, menyatakan bahwa pers memang sengaja atau tidak sengaja mengumbar pemberitaan yang mengarah kepada “trial by the press”. Istilah keren lain adalah character assasination (pembunuhan karakter). Mendiskreditkan narasumber dan tidak mengindahkan asas praduga tak bersalah.

Continue Reading »

« Newer Posts - Older Posts »