Saya dilahirkan di sebuah kota kecil, Wonosari, lk 40 km tenggara kota Jogja. Sejak masuk Jakarta tahun 1997 hingga kini, aktivitas saya tak lepas dari dunia industri media. Mulai dari menjadi wartawan di majalah CAKRAM (1997 – 2000), menekuni usaha kaki lima di bidang in-house magazine, hingga “didapuk” menjadi Direktur Eksekutif di Serikat Penerbit Suratkabar (SPS Pusat) sejak Juli 2005. Blog ini saya persembahkan untuk mereka yang menikmati petualangannya di pentas media di tanah air.
Anda bisa menghubungi saya di asmono28@yahoo.com atau asmono@spsindonesia.or.id. Atau bisa pula sms saya di 0816-1191936 dan atau 0817-6881936. Senang sekali jika Anda berkenan memberikan kritik dan masukan bagi pengembangan blog saya ini, sekaligus kita bisa saling berwacana mengenai industri media, khususnya media cetak. Salam.



Masa lalu seringkali mengundang pelbagai nuansa yang acapkali menarik untuk dikaitkan dengan fenomena kekinian, dan bahkan mungkin masa depan. Termasuk dalam urusan favoritisme atas sebuah makanan. Jangan Lombok Ijo, misalnya. Bukan sekadar sebuah nama sayur (Jawa: Jangan) yang selalu mengingatkan seseorang atas kenikmatan menyantap sayur satu ini.
Namun Jangan Lombok Ijo juga berarti sebuah masa lalu, masa kini, bahkan sekaligus masa depan. Untuk mereka yang suka menautkan masa lalu sebagai bahan pelajaran untuk bersikap di masa kini dan akan datang, inilah medan wacana yang saya persembahkan untuk Anda semua.
halo asmono, dgn melani. salam kenal
. tulisan kamu menarik. senang ya kl bs mengekspresikan ide dan pikiran kita melalui tulisan. sy boleh minta alamat email kamu? pengen berkorespondensi lsg, kalo kamu gak keberatan. thankkss bangett ya
. tetep rajin menulis ok !
##melani##
Ass. pagi bang, kapan nih jalan-jalan ke Kaltim biar cari udara segar dan diskusi nambah. Setelah baca berbagai ulasan dan komentar abang ttg media, saya pingin abang bagi pengalaman nih sama awak redaksi di daerah, kapan bisa kontak kami , via email. ditunggu kabarnya. Rio Kaltim
ahmad iqbal baru nih mau lapor aja ke kepala suku
misi..misi… numpang baca2 ya mas. kalo disuguhi jangan lombok ijo juga gak nolak kok
lombok iji …. enak tuk tumis … spt tulisan anda yang tanpa kumis … ha ha ha … asyik bacanya, thx
hai…….?!
mohon ampun, saya cuma kutu kupret….
MAJU TERUS LOMBOK KAMI ORANG 2 TERSISIH TETAP MEMANTAU LOMBOK.KARNA KAMI ORANG LOMBOK DI RANTAUAN.SMOGA ADA PERUBAHAN TENTANG LOMBOK DARI SEGI SDM.PERS DSB.
wah ke
ren banget nich ….
jangan lombok ijo itu kan ada di Semanu Gunung Kidul tho kanan jalan arah wonogiri. Jangan ne enak tenan. aku dulu dua tahun jadi wartawan bernas di gunung kidul
jika anda wartawan kami berharap bahwa berita yang disajikan hendaknya bener2 membawa kejelasan bagi pembaca tapi jangan bawa muatan bisnis yang justru menimbulkan penafsiran lain bagi yang baca
jika anda orang jawa hrsnya mendalami maknanya dulu, Lombok ijo jangan diartikan sepotong karena disitulah letak sebuah makna terpenggal yang menimbulkan salah pengertian. silakan jadi orang modern tapi harus punya wawasan yang positif sehingga tidak mengarahkan orang ke arah yang salah
wdUch…..
mas,pinteeeeeerr bngt!!!
mas asmono gtu lho……
hmm…
aline bnr” bngga bngt ma mas….
succes slalu ya….
Panggilan sehari-hari saya adalah AYU namun jangan salah saya adalah asli orang batak. Papa bermarga SIREGAR, Nyokap boru Hutabarat dari Tarutung.
Saluuuuuut buat abang yang bukan orang medan,lahir bukan di SUmatera mengumandangkan INI MEDAN Bung,
Bagaimana nasib kami yang lahir di tanah jawa (Jakarta) bermarga lagi, namun tidak turut serta memproklamirkan kata ” Ini Medan Bung ” Succes slelu yang bang.
sayur lombok ijo, sebagai identitas yang lebih bisa mengikuti perkembangan jaman, dari pada thiwul yang asli, tidak bisa bertahan kalah dengan yang instan. Begitu juga perkembangan daerah saya di Gunungkidul, yang oleh generasi remaja sampai tua masih terkendala dengan sulitnya air di musim kemarau. Semoga kendala air di musim kemarau bisa teratasi, bisa mengikuti keaslian Jangan (sayur) Lombok Ijo yang asli, walaupun masakan tradisi tetap bisa dibawa dan disandingkan dengan segala masakan dari daerah manapun.
Salam Kenal Mas. Tulisannya mantab banget.
Salam
Zainal
salam kenal,
saya klik you blog
pers bima sdkit kurang sehat, sih ?
salam kenal yaaaa..
bukanya lombok ijo pedesssssss banget
Gimana kabar mas Asmono kepan main ke bungo, spertinya pers di bungo kurang sehat mas…….
Salam kenal buat alumnus ekamas yang satu ini …..
saya juga alumnus ekamas lho … angkatan 97….
salam kenal mas asmono,
betewe angkatan brapa mas di ekamas?
kalok saya kawannya jhonie
indogudel diatastulisannya bagus2 mas, rencana buwat mbikin web ekamas bisa nih mas asmono jadi kontributornya
salam dari Padang..
Sebagai “veteran tukang koran”, blog ini lumayan bisa mengobati kerinduan. Mas Asmono, kapan kita bikin kerjaan bareng lagi…kangen sama kertas koran nih…
mas kalo ada lomba tentang karya tulis apa saja tolong email saya ya ke yamin_bl@yahoo.co.id
soalnya saya senang banget nulis. makasih dah,…..
Pak. Asmono, kayaknya foto sampean itu lokasinya di atas pantai Malimbo Lombok Barat ya, memang sangat indah dan nyaman, terlbih jika sambil menikmati air kelapa muda. Kalau Pak Asmono menyempatkan diri berfoto di Pusuk Sembalun Lombok Timur (daerah tertinggi yang bisa dilewati Mobil) atau pantai Mayun Lombok Selatan jauh lebih indah. Selamat mencoba. Saya pernah 12 tahun bertugas di Fakultas Syariah IAIN Mataram dan setiap tahun keliling pulau Lombok sambil penelitian dan bimbing KKN (kuliah Kerja Nyata). Sejak 1 April 2004 saya mutasi ke Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.
Di antara yang khas dari Pulau Lombok adalah plecing kangkung dan cerorot.
seneng juga ternyata banyak yang perhatian ma lombok. Lam kenal az buat bapak. Apalagi lok membahas tentang masyarakat, hukum, dan masalah lainnya,
mantap banget deh tulisan2nya…salam kenal dari bandung akhirnya jawa pos melirik juga koran harian ekonomi, meskipun berbahasa inggris, mo nyaingin jakarta post kali ye, ato malah investor daily??he…kita tunggu keterlibatan IBT ini
mas asmono geto loch, gemana dah baca buku yang kemarin beli dihero blm? makanya musti rajin baca biar ga jadul alias ketinggalan jaman…
salam kenal Mas Asmono, saya juga berada dalam lingkup industri media
tepatnya Harian Umum Solopos masih keluarga BIsnis Indonesia
saya bukan awak redaksi, tapi bagian SDM, saya senang tambah pengalaman tentang industri media dari blog anda
tolong kasi masukan buat blog saya
terima kasih
Piye mas kabare…?
mampir ngombe mas
salam kenal dari klikharry
Rupert Murdoch yang baru puasa media cetak selama sebulan, mengaku tidak ketinggalan berita karena media online sudah menyediakan. Bos media bilang begitu. Juragan Jangan Lombok Ijo pasti punya analisis yang pedhes kemepyar untuk ini ..
Sekalian numpang beken buat ruang curhat kami di http://www.amintr.wordpress.com
Mas mono tulisan 4 B mu amat menarik loh!! makasih uda promosikan kota manado.
Mas…saya bisa minta tolong lagi neh. Minta Informasi detail tentang koran -koran di manado. Baik itu nomor telepon dan alamat kantor media tersebut.
Terima kasih
Iqbal Arief Ismail
Pak Asmono, salam kenal, saya mantan wartawan Indonesia Bussines Today…dulu pernah nelpon bapak buat minta statemen ttg kenaikan BBM dan imbasnya bagi penerbitan…hehehehe…skrg saya di warta egov, baby magazine by Warta Ekonomi.
kalo ada waktu, mohon Maen-maen ke web kami di http://wartaegov.com
ato ke blog saya di http://wartawangoblog.wordpress.com
Wassalam
wah fotonya mas apik benar yah. tapi jangan lupa yang motret waktu di Lombok siapa dulu dong:)) hehehehe
sukses yah mas
Ok tenan kang tulisane,sejak kita ktm di Bjm aku baru sempat buka blog mu sory yo kang…sukses to wong ndeso Gunung Kidul jgn minder…
salam kenal mas, saya andre parvian dari surabaya
Salam Ekamas….
Salam kenal mas asmono, saya alumnus ekamas 2004..
Salam dari Balikpapan….
Monggo mas, silahkan mampir di situs saya, kutunggu lho
hai mas As….
Ahkirnya saya menemukan seseorang yang bisa menambah inpirasi saya ttg manajemen media cetak….tulisan mas As bener2 jadi sumber inspitatif saya…matur nuwun njih mas…
salam kenal ya …
Apakah boleh sebuah media cetak berbentuk SKU ( Surat Kabar Umum ) bergabung dengan SPS ??
Kalau iya, bagaimana caranya??
regads
mario
pemred SKU SOROT
fotonya diLombok ya mas?? foto kapan tu?… hehehe…. kirain tadi orang lombok lam kenal ^_^
Halo Mas Asmono,
Tulisannya menarik dan semoga membuat kita semua makin ‘wikan’. Semoga ketemu lagi di Bali tahun ini ya, saya bawain keju, hehe.
Salam dari Groningen,
Mimba
Salam Mas Asmono….
Jujur setiap orang dalam dunia media dan tulisan memiliki ciri tersendiri dan daya tarik masing2. Dan saya juga menyukai gaya Anda dalam menuangkan inspirasi-inspirasi yang dapat diterima khalayak ramaii..dan mudah dicerna.
Saya berharap pada suatu kesempatan nanti kita dapat bekerja sama dalam membangun karir, sebab saya juga sangat mencintai yang namanya menulis, mencipta dan melahirkan inspirasi2 baru buat dunia khususnya media.
wassalam
khairil marzuki
assalamualaikum pak…
ini salah satu siswa dari SMU negri di Pekanbaru..
yang insyaalah akan akan berpartisipasi dalam Olimpiade Membaca APBN yang bapak gelar…
saya mau tanya…
kemarin, pada saat tekhnical meeting, bpk. katakan beberapa sekolah di Pekanbaru akan diundi untuk mendapatkan kesempatan mengirimkan 2 tim debat pada tanggal 17 april…
jadi, saya ingin memastikan, sekolah saya bagaimana ???
tolong, bpk. kirimkan nama-nama sekolah yang mempunyai kesempatan mengrimkan 2 tim ..??
terima kasih sebelumnya…
Alo Mas Asmono…sy dari Tribun yg kemarin wawancara acara di Soeman HS
Wah…ndak nyangka kalo hobi ngeblog…
Tuh Jangan Lombok ijo maksudnya Jangan beneran ato Jangan (bahasa jawa)= sayur
terus menulis ,kembangkan idealisme kritismu mas…….! saluut
wah mas, ketemu lagi, salut deh blognya. baru ketemu nih tadi searching-searaching di google tentang media, eh nemu blognya sampean. he he he he he……, salam kenal aja mas. sekalian mo nanya2 nih. ntar by email aja ya. thanks before
Salam kenal …
Mas, kok lama gak up date?
Salam
Dian, saya sudah lama tidak memposting tulisan di blog ini, karena adminnya tidak bisa saya akses, entah kenapa saya juga tidak tahu. Selanjutnya saya sekarang lebih rutin memposting tulisan di blog saya yang baru di http://asmonowikan.wordpress.com. Silakan kunjungi blog tersebut ya…
salam sukses buwatmu.
Jangan Lombok Ijo : Sebagai orang Wonosari Asli, saya merasa Jangan Lombok Ijo ini sudah menjadi Ikon Gunung Kidul. Kenyataannya, dalam setiap Kesempatan ngumpul, yg namanya JLI itu selalu ada. Dari Kenduri ala Wong Ndeso, rasulan, wedangan memang JLI ini identik dengan Gunung Kidul.
Saya meninggalkan Gunung Kidul untuk merantau, sekitar 30 taun yg lalu, tepatnya setelah Lulus SMA. Sejak itu, saya jarang sekali pulang. Atau bisa saya bilang, hampir tidak pernah pulang.
Tetapi bukan berarti JLI terus saya Lupakan, tidak sama sekali. dan Bukan berarti Wedangan saya lupakan ya tidak sama sekali. Saya masih memiliki rasa keterkaitan yg kuat dengan Kota Kecil yg bernama Wonosari. Karena disitu saya dilahirkan, disaat Listrik pertamakali menyala di kota kecil itu.
Seminggu sekali, menu di rumah saya Masih diwarnai nuansa Wonosari, Nuansa Nggunung dan nuansa Ndeso. Dan ternyata Ke ndesoan saya itu nggak hilang. Masih selalu masak JLI ( sekarang istri saya yg bukan org wonosari sudah ahli ), tempe dan tahu bacem, peyek yg renyah dan tentu saja Jangan Lombok Ijo” Puedese Pol” ( ini istilah ndeso untuk extremely hot ). Dan kenikmatan itulah yg membuat saya tidak akan pernah lupa dengan Wonosari.
Wedangan merupakan salah satu kegiatan rutin di Wonosari, dijaman saya dulu ada ” Wariyo ” di dalam Pasar Argosari. ( apa masih ada ya ? ) dan sekarang ada “Mbedher” yg dulu sering membantu kita setiap kali ada acara Band. Atau dulu istilahnya Rodes. Dan nama asli Mas Bedher ini saya malah nggak tau. Dan kalau saya pulang kampung ( Once in a blue moon ) walaupun cuma satu hari, pasti saya sempatkan ” Wedangan ” karena disitu saya Pasti ( for sure ) akan berjumpa dengan kawan kawan saya.
Saya Mungkin nggak kenal Sama ” Mas Asmono”, tapi saya yakin sekali kalau saya pasti kenal dengan Orang tuanya Mas Asmono. Saya sekolah dari SD V, SMP I dan SMA I Wonosari. Salam kenal saya dan saya bangga, ternyata anda anak Wonosari yg berhasil.
Nuwun sewu Mas Asmono, kalau tulisan saya ini terlalu panjang. Matur Nuwun. JLI akan selalu dihati.